(Tribun Jabar, 3 Maret 2019)

Di Pulau Sribuluka, sebuah pulau yang cukup jauh di tengah lautan, sebuah pulau di mana gerimis turun seperti warna tembaga, segalanya dinyalakan dengan kesedihan.

Tidak seperti wilayah lain di Indonesia, pulau Sribuluka identik dengan sesuatu yang sedih dan menyakitkan. Konon, dahulu ia adalah pulau kecil yang terasing. Letaknya juga bukan di perbatasan, sehingga tidak menjadi rebutan negara manapun. Pada masa perang kemerdekaan, Pulau itu kemudian dijadikan tempat pembuangan tahanan politik, tahanan perang, dan terkadang pula tahanan perasaan. Kapal-kapal kecil silih berganti mengirimkan orang-orang yang dianggap pemberontak, musuh politik, tokoh yang harus dihilangkan, hingga orang-orang patah hati yang mengirimkan dirinya sendiri. Sejak saat itu, pulau yang awalnya tanpa nama, diberi nama Sribuluka, karena ada banyak luka yang mesti diasingkan ke sana.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang terasing itu pun membentuk masyarakat tersendiri. Jika mereka awalnya hanya tinggal di tempat-tempat terbuka semacam hutan dan tepi pantai, kini mereka mulai hidup layaknya sebuah perkampungan. Maklum, karena yang terbuang itu tidak semuanya preman pasar, tapi banyak yang memiliki kecerdasan, yakni para pemikir dan para cendekiawan yang dianggap membahayakan stabilitas negara. Mereka lalu bergotong-royong untuk bertahan hidup. Namun tetap saja, penduduk pulau Sribuluka adalah orang-orang yang identik dengan kesedihan. Rumah-rumah yang mereka bangun menampakkan suasana muram, tanpa harapan. Jalan-jalan setapak seperti jalan filusuf yang mengajak pada pengasingan diri. Setiap sudut pulau dibuat sedemikian rupa memancarkan kesengsaraan. Tampaknya penduduk Sribuluka telah membudidayakan kesedihan. Dan dari sekian hasil produksi kesedihan, penemuan terbaik mereka adalah: Pembangkit Listrik Tenaga Air Mata.

Dikarenakan menjadi pulau terasing, Pulau Sribuluka tidak punya pasokan listrik. Sehingga awalnya para penduduk menggunakan perapian, lampu minyak, dan obor. Seiring waktu, mereka berusaha merancang sebuah pembangkit listrik di tepi pantai. Para penduduk hilir mudik ke daratan seberang untuk mengumpulkan alat-alat yang digunakan untuk merakit mesin pembangkitnya. Kombinasi para pekerja, para pemikir, para penyendiri, membuat proyek itu bisa selesai dalam waktu enam bulan. Para pemikir menyumbang konsep tentang mesin dan instalasi, para pekerja menyumbang tenaga, para penyendiri tidak menyumbang apa-apa. Prof. Nalea, seorang ahli mesin yang dibuang karena mencoba membuat mobil dalam negeri dan tidak mau impor, ada orang yang paling berpengaruh dalam proyek ini, ia pula yang akhirnya meresmikan dan memberinya nama Pembangkit Listrik Tenaga Air Mata. Tentu sumbernya tetap dari air laut. Penamaan air mata hanya sebagai dramatisasi, barangkali karena kedua air itu sama-sama memiliki rasa asin.

Namun ada juga yang mengembuskan kabar bahwa pembangkit listrik itu memang bersumber dari air mata. Setelah Pulau Sribuluka dipenuhi cahaya gemerlapan pada setiap jalan dan rumahnya, beredarlah sebuah cerita di kalangan penduduk daratan, bahwa orang-orang Sribuluka menyebar ke banyak tempat untuk mengumpulkan air mata, yang kemudian dibawa kembali ke pulau mereka, untuk menerangi kehidupan mereka.

“Jadi, mereka bisa menyalakan lampu, AC, laptop, semuanya hasil dari air mata penderitaan?”

“Memang benar begitu.”

“Nah, itu mengerikan. Bayangkan saja, kau bisa bertahan hidup karena kau terlalu banyak menangis.”

Ketika kisah ini beredar, orang-orang masih menganggapnya sebagai hal-hal yang berlebihan, tapi ketika studio film Pixar di Amerika sana merilis film Monster Inc, film tentang sebuah dunia yang listriknya bersumber dari suara jeritan anak kecil, semakin yakinlah bahwa di Pulau Sribuluka, listrik mereka memang diolah dari air mata.

“Jika kekasihmu terus-terusan membuatmu menangis, kau patut waspada, bisa jadi ia sebenarnya adalah penduduk Sribuluka, yang diam-diam ingin menguras air matamu.”

“Sayang, apa kau penduduk Sribuluka?”

“Memangnya kenapa?”

“Karena aku telah bersedih semenjak hari pertama aku mencintaimu.”

Cerita bualan ini diperparah oleh rilis dari Badan Pusat Statistik, bahwa dari tahun ke tahun, jumlah perempuan patah hati semakin meningkat. Perempuan, yang memang pada asalnya adalah makhluk yang dicintai untuk ditinggalkan, semakin mudah mencucurkan air matanya. Sedikit-sedikit menangis, sedikit-sedikit menangis, padahal jika ditelisik seringkali merekalah yang melukai, lalu bermain sebagai korban.

Mitos tersebut pada akhirnya justru membuat banyak orang penasaran, ingin berkunjung ke Pulau Sribuluka untuk membuktikan dengan mata kepala sendiri: benarkah ada pembangkit listrik yang memang bersumber dari air mata? Beberapa biro wisata melihat peluang, lalu membuka paket perjalanan ke Pulau Sribuluka. Di era sosial media, gemerlap paradoksal Sribuluka juga begitu cepat merambat, tak butuh lama bagi sebuah pulau yang awalnya identik dengan kemuraman, menjelma seperti sebuah tempat yang menarik untuk masuk dalam instagram.

Ketika orang-orang dari luar mulai berdatangan ke Sribuluka, dan fenomenanya merebak di portal-portal berita, Presiden yang baru terpilih untuk kedua kalinya pun mulai ikut mengomentari. Dalam suatu wawancaranya ia mengatakan, bahwa Pulau Sribuluka adalah contoh bagaimana masyarakat harus kreatif untuk mensejahterakan hidup, jangan berpangku tangan. Presiden—yang sebenarnya tidak tahu-menahu perihal masa lalu pulau itu—mengharapkan Sribuluka bisa memicu kreatifitas masyarakat lain untuk memaksimalkan potensi lingkungan. Ketika pemimpin tertinggi sudah bicara, lonjakan pengunjung pun tak dielakkan lagi. Bukan lagi kapal-kapal kecil yang biasanya melesat di tengah malam mengirim orang-orang terbuang, melainkan kapal-kapal besar serupa kapal pesiar. Tampaknya, euforia kebahagiaan karena menemukan destinasi wisata baru, telah membuat orang-orang daratan, termasuk presiden, melupakan asal mula kehidupan di pulau itu terbentuk.

Ya, para penduduk Sribuluka tidak melupakan bagaimana leluhur mereka dahulu adalah orang-orang yang disingkirkan. Para sesepuh pulau tetap rajin mengingatkan kisah penderitaan mereka karena dikucilkan oleh negara. Para orang tua mengingatkan kepada anak-anaknya tentang kepedihan di masa penjajahan, diasingkan karena berbeda pandangan politik, karena dianggap pemikirannya berbahaya bagi negara, juga karena patah hati pada perempuan yang tak kunjung didapatkan. Anak-anak Sribuluka adalah anak-anak yang tumbuh di bawah teror ketidakpercayaan, keterasingan, dan sisa-sisa rasa sakit. Mereka kini merasa aneh dan tersingkirkan oleh para pendatang yang seperti tidak pernah mengenal penderitaan sedalam yang pernah mereka alami. Para penduduk asli pun menepi ke daerah perbukitan, membiarkan sebagian besar dari pulau ini diambil oleh orang-orang yang berkuasa.

Sekarang pulau mereka dipenuhi manusia-manusia yang bahagia, tertawa-tawa, berfoto ria. Pembangkit Listrik Tenaga Air Mata tinggallah tempat wisata belaka, bagian gerbangnya dipasang loket, dan disediakan beberapa hiburan di dalamnya. Fungsi utama pembangkit itu telah digantikan pasokan listrik dari darat yang menyeberangi lautan. Orang-orang dengan mudah memenuhi Pembangkit Listrik Tenaga Air Mata untuk bersantai, selfie, berenang, dan bercinta…

Para investor berdatangan menanam modal untuk membangun penginapan dan fasilitas wisata lainnya, hutan-hutan disingkirkan dan menjelma taman, jalanan diaspal dan banyak minimarket yang tumbuh. Hampir seluruh garis pantai menjadi tempat wisata, sehingga lama-kelamaan, sebagaimana ciri khas tempat yang maju, ada banyak sampah berserakan di perairannya.

Tapi konon, terlepas dari euforia itu, tak seorang pun menduga, beberapa puluh kilometer tak jauh dari Sribuluka, baru saja ditemukan sebuah tonjolan di tengah laut, yang setiap tahun naik sekitar sepuluh meter. Butuh waktu yang lama bagi BMKG, BNPB, dan instansi terkait lainnya untuk mengetahui apakah itu pulau baru ataukah gunung berapi. Yang pasti, jika sebuah kesedihan telah dinetralisir dengan kebahagiaan, maka kesedihan lain akan menemukan jalannya, sekalipun di tengah lautan. ***

Advertisements