Pernah denger paradoks Omnipotence yg diagung-agungkan kaum atheis? Yaitu sebuah pertanyaan paradoksal, “Bisakah Tuhan menciptakan batu besar yg Dia tidak bisa mengangkatnya?” Kalau belum pernah silakan tanya Syeikh Google Al Youtubi…. Kalau sudah, silakan coba menjawab, pasti bingung. Kalau dijawab bisa menciptakannya, berarti bukan tuhan yang Maha Kuat, kalo tidak bisa menciptakannya, berarti juga bukan tuhan Yang Maha Menciptakan Apa Saja… Well, well, well… Pertanyaan ini sebenarnya memakai permainan perspektif bahasa dan pola pikir mendasar otak manusia.

Bagi seorang muslim yang telah memahami tauhid Asma wa Sifat, tentu tidak akan bingung lagi. Karena di antara kaidah dalam perbuatan Allah, adalah Allah mustahil melakukan sesuatu yg menafikan sifat Ketuhanan, dan makhluk tidak berhak mendikte Allah tentang apa yang harus dilakukan-Nya. Sehingga, pertanyaan omnipotence itu sejak awalnya sudah tidak perlu dijawab dan tidak perlu dipikirkan. Cukup ditepis dengan pengakuan keimanan kepada Allah. Status paradoks Omnipotence juga ada dalam pertanyaan semisal, “Bisakah Tuhan menciptakan Tuhan lain yang tak bisa Ia kalahkan?” “Bisakah Tuhan menciptakan neraka yang membakar diri-Nya.” dll… Pertanyaan-pertanyaan ini tidak layak dipikirkan dan ditanyakan karena ia merupakan bisikan syetan. Dan bisikan setan itu caranya bukan dijawab, melainkan diabaikan. Sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengingatkan jika syetan datang untuk bertanya, “Siapa yang menciptakan Allah?” maka jangan dijawab dan cukup berkata, “Aku beriman kepada Allah.” jadi kalau ada orang atheis mengajukan paradoks omnipotence, maka dia setan dari kalangan manusia. Sebab telah diketahui bahwa ada setan jin dan ada setan manusia.

Tapi atheis kan tidak suka jawaban teologis, maklum mereka orang2 tolol yang otaknya tak mampu mencerna kabar2 teologis. Jadi mari kita ikuti aturan mereka. Namun perlu diingat, tulisan ini ditujukan untuk membantu kaum non-atheis yang masih bingung, karena kalo sudah murni jadi atheis, sekalipun dibuktikan, kepalanya sudah kayak batu yang kalau disiram air, gak ada setetespun yang masuk.

Sebagai mukadimah, kita ingatkan dulu tentang sebuah asumsi eror dalam pertanyaan. Mungkin waktu sekolah kita pernah nemu soal yang eror, entah karena isi kalimatnya salah, pilihan jawabannya nggak ada, atau alasan lain, pokoknya setelah itu kita bilang ke guru, “Ini pertanyaannya salah.” Jadi, sebuah pertanyaan kadang tidak perlu dijawab karena ia sendiri salah. Kita jangan terperangkap bahwa yang bisa salah dan benar itu hanya “Jawaban”, tapi “Pertanyaan” pun begitu. Pertanyaan yang “salah”, otomatis ia tidak membutuhkan jawaban… Dan di antara jenis kesalahan pertanyaan adalah menggabungkan 2 hal yg saling menegasikan… Inilah yang terkandung dalam Pertanyaan Omnipotence. Kalau lebih sederhananya, ia sama dg pertanyaan, “Bisakah Si Adi menjawab soal yg Si Adi tidak bisa menjawabnya?” Di sini jebakan, kalo dijawab bisa, berarti Adi tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, kalau dijawab tidak bisa, berarti sebenarnya Adi bisa menjawab pertanyaan tersebut.. Kalau muncul pertanyaan semisal ini, akal sehat pasti menolak untuk menjawabnya karena pertanyaannya salah… Selanjutnya, kalau pertanyaannya terbukti salah, siapa yang kita salahkan? Si pembuat pertanyaan ataukah tokoh dalam pertanyaan? Ketika ada seorang guru membuat pertanyaan, “Bisakan si Adi menjawab pertanyaan yang si Adi tidak bisa menjawabnya?” Maka kita menyalahkan guru atau Si Adi? Tentu gurunya. Maka begitulah ketika paradoks Omnipotence itu termasuk jenis pertanyaan yang salah, jangan Tuhan di dalam pertanyaan yang disalahkan, tapi orang atheis si pembuat pertanyaan itulah yang harus disalahkan karena gagal mereparasi kepalanya sendiri.

Namun anggaplah pertanyaan itu valid, karena orang atheis biasanya ngeyel. Oke. Kita kupas satu demi satu.

Yang pertama sisi bahasa. Kata “bisa” dalam paradoks Omnipotence sangat ambigu, karena “bisa” itu diserahkan ke perspektif masing-masing. Mindset / pola pikir manusia adalah: untuk dianggap “bisa” melakukan sesuatu, maka ia harus menunjukkannya. Valentino Rossi kalau datang ke suatu tempat yg tak seorang pun mengenalnya sebagai pembalap motogp, lalu di tempat itu dia tidak pernah mau naik motor, maka orang di tempat tersebut akan menganggap, “Valentino Rossi tidak bisa naik motor.” Untuk menepisnya tentu mudah, Rossi hanya perlu menunjukkan kemampuannya. Sedangkan untuk Tuhan, gimana bisa dibuktikan kalau Tuhan saja tidak bisa dilihat? Makanya orang atheis akan selamanya terjebak dalam kesimpulan “Tuhan tidak bisa.” hanya karena mereka menciptakan tantangan yang mereka sendiri sadar bahwa mereka tidak pernah bisa melihat pembuktiannya.

Yang kedua, setelah kita memahami perspektif bahasa dan dasar pola pikir manusia di atas, dan setelah kita tahu bahwa pembuktian secara fisik tidak mungkin karena Tuhan itu ghaib. Kini intinya, Kita akan jawab dengan pembuktian asumtif. Kita bagi pertanyaan itu jadi 2 bagian.

1. Apakah Tuhan bisa menciptakan sebuah batu besar? Jawabannya BISA. Sampai sini tentu sepakat tidak ada masalah.
2. Yang kedua, perhatikan, apakah tuhan TIDAK BISA mengangkat batu tersebut?
Maka, karena kata “bisa” sangat tergantung perspektif orang, sehingga Jawaban untuk bagian ini adalah: IYA! TUHAN TIDAK BISA MENGANGKATNYA!

Lho Kok?

Karena jawaban lengkapnya adalah: “TUHAN BISA MENGANGKAT BATU TERSEBUT, SEKALIGUS DALAM WAKTU BERSAMAAN TUHAN JUGA BISA MEMBUAT MANUSIA MENGANGGAP BAHWA TUHAN TIDAK BISA MENGANGKATNYA.”

Kenapa ada kata “menganggap”? Karena sebagaimana kata “bisa” yang diserahkan ke perspektif, maka kata “mengangkat” pun juga dikembalikan pada perspektif. Bagi manusia, kata “mengangkat” berarti menggambarkan sesuatu yang awalnya menempel ke bumi lalu perlahan bergerak ke atas dengan suatu tenaga atau alat. Nah, Pertama. Tuhan BISA menciptakan batu besar di atas bumi. Dan Kedua. Tuhan bisa mengangkat batu tanpa mengangkat batu itu. Gimana caranya? Yakni, Kalau Tuhan menghendaki, TUHAN BUKAN MENGGERAKKAN BATUNYA KE ATAS, TAPI CUKUP MENURUNKAN BUMI KE BAWAH SEDANGKAN BATU TETAP DI POSISI YANG SAMA, sehingga batu itu akan terangkat tanpa perlu diangkat dalam perspektif manusia. Jadi biarlah orang atheis larut dalam kubangan anggapan bahwa Tuhan tidak bisa mengangkat batu hanya karena Tuhan melakukannya dengan cara berbeda! Bahkan ini justru termasuk kesempurnaan Ilmu Tuhan, Dia Bisa menunjukkan kepada manusia non-atheis bahwa Dia Bisa mengangkat batu tanpa perlu mengangkatnya, dan di saat yang sama Tuhan bisa membuat orang Atheis tetap berpikir bahwa Tuhan tidak bisa mengangkat batu itu sehingga mereka pun tetap menjadi atheis. Sebagaimana Tuhan bisa membuat sebagian manusia beriman dan sebagian lagi tidak beriman.

Sehingga kesimpulannya, pertanyaan paradoks omnipotence, “Bisakah Tuhan menciptakan batu yang dia tidak bisa mengangkatnya?” Jawabannya: “Iya. Tuhan bisa menciptakan batu, yang Dia bisa mengangkatnya tanpa perlu mengangkatnya sehingga membuat orang atheis tetap menganggap bahwa Dia tidak bisa mengangkatnya.” Atau, “Tuhan bisa menciptakan sebuah batu yang orang atheis menganggap Dia tidak bisa mengangkatnya.”

Mumet ora kowe son?

Advertisements