Harus dikatakan, bahwa saya termasuk orang yg menolak pendapat bahwa penulis juga harus pandai berjualan. Sebagai catatan: “harus pandai” berbeda dengan “harus bisa”, kalau sekadar bisa sih gampang, tapi untuk pandai berjualan, maka di situ tidak sekadar publikasi, tapi ada teknik-teknik persuasi dan promosi tentang bagaimana agar orang tertarik membeli. Hal ini bagi penulis sangat rawan, karena bisa jadi ia harus membagus-baguskan karyanya lebih dari yang semestinya. Sedangkan saya selalu penuh cuiga terhadap karya sendiri, bahkan sering menganggapnya musuh, terutama karya yang sudah dipublikasi di media atau diterbitkan sebagai buku. Itulah mengapa meskipun sampai sekarang sudah terbit 5 buku, saya tak menyimpan 1 pun dari 5 buku itu untuk diri sendiri…

Di sisi lain, ini menjadi dilematis karena penulis juga punya tanggung jawab kemanusiaan untuk ikut membantu hasil penjualan. Apalagi di tengah makin ketatnya persaingan perbukuan. Penerbit tentu suka penulis yang juga aktif. Sisi dilematis ini telah memunculkan apa yang disebut “personal branding”.

Suatu kali, saya melihat postingan seorang editor, katanya, ketika hendak meloloskan suatu naskah yang masuk, ia melihat dulu postingan-postingan pengarangnya di sosmed. Bagi saya ini aneh. Lha ini mau nerbitin buku atau mau cari bakat selebtwit selebgram selebbook? Mungkin ia berpikir realistis, penulis yang akhlaknya baik, tidak dipenuhi kata-kata busuk, tulisannya adem, maka akan berpengaruh nanti dengan imej penerbitan sekaligus kemungkinan jumlah penjualan yang dihasilkan. Itu hak editor tersebut, setiap orang boleh membuat parameter sendiri, apalagi jika ia memang punya kuasa untuk itu. Tapi yang perlu ia tahu, penulis yg baik, otomatis ia telah memfilter setiap yang dia ucapkan atau dia tulis di luar karyanya. Terlepas nanti disetujui atau tidak hasil pemikirannya itu, sebab proses kreatif kepenulisan itu adalah proses pengolahan pikiran yang sekaligus mewakili tingkah laku yang menjadi kebiasaan. Sebenarnya editor sudah bisa melihat karakter pengarang dari karakter karyanya, bagaimana menyusun kritik, menyusun emosi, dan lain sebagainya. Dan hal ini tidak bisa diharapkan kecuali oleh editor yang juga mumpuni dalam penggalian kualitas. Jangan sampai seorang editor memposisikan sebagai seorang raja yang sangat dibutuhkan oleh bawahannya (yakni penulis-penulis), dan bawahannya itu harus bersikap sangat-sangat manis dan menjadi yang bukan diri mereka. Sehingga nanti misal sebuah karya tidak diloloskan, alasannya karena buruknya personal branding. Ini alasan yang sesat menyesatkan.

Personal branding, jika ditinjuah lebih jauh, memang dampaknya sangat baik untuk kelangsungan industri perbukuan, bagaimana tidak? Buku-buku yang beredar di sekitar kita ditulis oleh penulis yang bijak, yang adem, yang santun, ramah tamah bersahabat, yang pandai membawa diri, yang pandai mempromosikan bukunya. Tapi secara jangka panjang menghasilkan efek buruk bagi kualitas bacaan yang beredar. Dari sisi pembaca, mereka akan dijejali banyak karya karbitan karena membeli buku-buku yang dilambungkan lebih dari yang semestinya. Buku-buku mereka adalah hasil dari kesuksesan personal branding. Dari sisi penulis, hal ini membuat karya mereka tak lagi merdeka, sebab dilingkupi banyak kepalsuan. Kepalsuan promosi, kepalsuan kepuasan, kepalsuan kualitas, hingga kepalsuan kepribadian penulis itu sendiri, karena harus menjaga imej di depan orang-orang. Apa jadinya jika Camilo Jose Cela hidup di zaman ini? Keterperosokan selera bacaan ini sebenarnya sudah terjadi, dan bisa dilihat tak hanya dari bacaan fiksi tapi di semua bidang. Sekarang Anda lihat kualitas humor anak-anak sosial media, berkisar pada istilah-istilah dan singkatan cabul dari fanpage rendahan.

Sebagai penutup, menjadi penulis itu bukan ikut saja apa yang menjadi keumuman. Pelajari biografi para penulis besar dan mereka tidak seperti game tetris, yang harus selalu mengikuti bentuk umum masyarakat, sehingga ia menjadi seragam tak bisa dibedakan atau dikenali sama sekali.

Advertisements