Tentunya ini hanya artikel satire / sarkasme, dalam artian, bukan berarti saya memang berpendapat seperti yang akan disebutkan nanti. Bahkan saya semakin mencintai Bahasa Indonesia sejak terjun bebas di dunia sastra. Ini hanya sebuah usaha meminjam kaidah pluralisme yang telah merusak tatanan beragama, untuk dipakai di tatanan berbahasa. Pemberitahuan ini dituliskan di awal bukan tanpa sebab.

Baik.

Sebagaimana kita tahu, dalam melihat begitu banyak konflik agama di masa sekarang, muncul orang-orang yang merasa paling benar dengan cara menyuruh orang lain agar tidak ada yang merasa paling benar. Orang-orang yang tidak sadar bahwa ia sedang berusaha menghilangkan eksistensinya sendiri ini, tumbuh ibarat jamur beracun di musim hujan dan menebar banyak kerancuan. Hal ini ini disebabkan semakin banyaknya konflik, perselisihan, dan perdebatan, yang membuat kebenaran hakiki menjadi sangat samar sehingga sulit diidentifikasi. Maka sebagai jalan keluar, muncullah orang yang skeptis, “Kalau begitu jangan sibuk lagi mengklaim kebenaran.” Mereka mencoba menjadi wasit, tapi wasit yang mencoba mengatur hasil akhir. Inilah kaum pluralis liberal, yang kemudian diklaim sebagai kaum yang beragamanya paling toleran.

Mereka memiliki kaidah yang—dibekali dengan kecerdasan retorika—mampu menyihir banyak orang yang memang awam dan tidak mampu melihat sisi kerusakan besarnya. Kaidah-kaidah ini tidak akan saya sebutkan, tapi akan saya aplikasikan langsung ke perangkat yang berbeda. Sehingga teman-teman bisa tahu sisi kekacauannya. Dan saya akan memilih perangkat berbahasa, yaitu dengan berusaha meliberalisasi bahasa, mengedepankan pluralisme bahasa sebagai wujud tidak merasa paling benar dan paling baik bahasanya.

Berikut 10 dalil perlunya liberalisasi Bahasa versi saya:

1. Semua bahasa dan kata adalah sama kedudukannya.

Ya. Bahasa adalah buatan manusia, dan manusia di mana-mana pun sama. Kalau umumnya ada slogan tidak boleh ada diskriminasi SARA, perlu ditambahi satu lagi jadi SARAB: Suku, Agama, Ras, Antargolongan, Bahasa. Tidak boleh seseorang menyinggung bahasa lain, menganggap bahasanya lebih baik dari bahasa orang lain. Bahkan antar kata tidak boleh saling merendahkan. Apalagi kata hanya huruf-huruf yang mewakili perasaan. Kata “Kiyai” misalnya, tidak boleh dianggap lebih tinggi dari kata—maaf– “Bajingan”. Kenapa? Karena bukan salah huruf B,A,J,I, N, dan G yang kemudian mendapat makna buruk. Huruf-huruf itu netral, adapun makna maka manusialah yang memberikan, huruf K, I, Y, dan A menjadi terhormat maknanya juga bukan karena huruf itu sendiri. Coba Anda pikir, Bisakah di suatu tempat, orang yang terhormat, dimuliakan, saleh, diberi label “Bajingan”, sedangkan preman pasar, tukang pukul, berandalan, diberi julukan “Kiyai”? Jawabannya tentu mungkin saja! Karena huruf dan kata akan sia-sia tanpa makna yang disematkan. Begitu pula bahasa. Tidak layak seseorang membanggakan bahasanya sebab itu cuma huruf-huruf yang sama kedudukannya dengan bahasa lain.

2. Semua Bahasa mengarah pada tujuan yang sama, hanya cara pengungkapan yang berbeda

Jika diteliti, tujuan berbahasa adalah menyampaikan makna atau maksud tertentu. Maka tidak perlu terlalu detil dalam berbahasa selama makna dan maksud itu bisa tersampaikan kepada si penerima. Jangan mencoba-coba menjadi Tuhan dalam urusan Bahasa. Karena ia bahkan tidak mampu memahami bahasa yang dipakai orang-orang bisu. Bahasa apakah yang pantas untuk orang-orang bisu? Baik bisu dalam artian literer, diberi cobaan secara fisik, atau mereka yang bisu karena dibungkam penguasa yang zalim dan membuat rakyat menderita (wuih!) Lihatlah, orang-orang bisu pun tetap merdeka, tetap bisa berkomunikasi, mereka tidak melestarikan bahasa, melainkan menciptakan bahasa, yang bahkan para Tuhan Bahasa itu tidak akan mampu kecuali harus melihat kamus mereka.

3. Tidak perlu ikatan geografis. Manusia tidak bisa memilih di mana ia dilahirkan

Hal yang marak akhir-akhir ini adalah sikap fanatisme kultural dalam berbahasa. Jerat tali lokalitas membelit setiap orang di mana ia dilahirkan. Tuduhan dan penyematan label jelek selalu membayang-bayangi orang yang mencoba lari dari bahasa kelahirannya. Tidak menghargai adat istiadat, tidak menghormati bahasa nenek moyang, dan lain sebagainya. Padahal orang tidak bisa memilih di mana ia dilahirkan. Dan ini jelas mengekang hak seorang manusia untuk berbahasa. Memang betul ketika lahir, orangtuanyalah yang mengajarkannya bahasa, tapi ketika telah dewasa dan mampu berpikir, seharusnya manusia diberi hak untuk “Pindah Bahasa” sesuai keyakinan masing-masing, dan meninggalkan bahasa nenek moyangnya. Apalagi semua bahasa kedudukannya sama. Semua baik, semua menuju penyampaian makna.

4. Bahasa penuh dengan kias dan majas, sia-sia menghakimi cara berbahasa seseorang

Akan jadi hal yang konyol menghakimi orang-orang lewat bahasa, atau bahkan kata, yang ia pakai. Sebab semua itu fleksibel, tidak bisa dimaknai tunggal, melainkan harus dilihat secara kondisi psikologis si pengucap, juga kontekstualitas kata itu sendiri . Dan memang ada semacam teror perasaan, di mana orang yang bahasanya santun berarti lebih beradab dari yang bahasanya kasar. Ini konyol, sebab sebagaimana di awal, pemaknaan itu kembali kepada manusianya. Orang yang berkata “Telah Wafat”, apakah berarti lebih santun dari yang berkata “Telah Mampus”? Belum tentu, bukankah bisa jadi makna “mampus” lebih mencakup keseluruhan emosional, lebih merdeka secara kultur, ketimbang kata wafat yang sarat dengan penjajahan sebab ia beraroma serapan dari Arab. Sedangkan negara kita kan anti sama yang Arab-Arab meskipun Arab tidak pernah menjajah negara kita.

5. Setiap orang berhak bahkan membuat bahasa untuk dirinya sendiri

Nah, orang yang telah mencapai tingkat makrifat bahasa, maka bebas menentukan bahasa sendiri. Bahkan ia boleh mencampur aduk seluruh bahasa yang ia mau tanpa perlu dianggap merusak. Sebab sebagaimana di awal, tujuannya adalah makna, adapun pengucapan hanyalah cara. Maka boleh You jalmi edan arek ngangghuy boso Jepang tafadhol sing penting kepenak. Bahkan kalau sudah ada yang mencapai level wali Bahasa, ia bisa berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain secepat kilat. Hari ini ngalap berkah di kuburan pakai bahasa Jawa, tiba-tiba sedetik kemudian sudah di Emirates Stadium London nonton Arsenal sambil berteriak “Wenger Out!”

6. Bermunculannya kata baru, sebagai bukti bahwa usaha pembakuan itu sia-sia

Sama halnya dengan betapa konyol seruan pelestarian budaya sebab manusia akan terus menciptakan budayanya sendiri, maka mempertahankan kata yang sudah ada dan menolak kata-kata yang sifatnya “bid’ah”, yaitu tidak pernah diucapkan nenek moyang kita, adalah hal yang sia-sia. 100 tahun lalu siapa yang tahu kata Baper? Tidak ada. Itu bid’ah dari sisi pengucapan. Namun ia menjadi kata di jajaran teratas hari ini. Semua menggunakannya. Contoh lain misalnya frase “Zaman now”, itu adalah bukti keberhasilan pluralisme bahasa. Siapa yang mau membendung? Menyalah-nyalahkan? Silakan saja, mau mati dalam idealisme atau ikuti saja apa kata pasar kata-kata.

7. KBBI seringkali bertekuk lutut mengakomodasi kata yang telanjur viral

Anda akan melihat sendiri, usaha KBBI untuk menjaga agar orang Indonesia hanya mengambil rujukan kepadanya, seringkali gagal disebabkan orang-orang toh tidak bisa diatur. Makanya membuat kitab suci dalam bahasa, itu tidak mungkin. Saya tidak tahu apakah kata Baper sudah masuk atau belum, tapi perhatikan kata “Hoaks” dan “Meme” yang sudah masuk. Tampak sekali ke-bertekuklutut-an KBBI terhadap kata yang beredar di tengah manusia. Hoaks dan Meme itu pengucapannya berbeda dengan huruf yang ada (Hoks dan Mem). Sementara Bahasa Indonesia asalnya mengikuti huruf. Saya ingat Pak Sumoto rahimahullah (guru Bahasa Indonesia saya semasa SMA) sampai menganjurkan pengucapan TV dengan “teve” bukan “tivi” yang keinggris-inggrisan. Makanya sebagaimana agama terbaik versi orang liberal haruslah tidak menyalahkan agama lain. Jadi KBBI versi paling final harusnya adalah yang ia tidak lagi menyalahkan-nyalahkan kata-kata apapun.

8. Orang toh bisa menjalani hidup tanpa diajari berbahasa dengan benar

Pada akhirnya tujuan di dunia ini adalah bagaimana bisa hidup dengan sebaik-baiknya. Orang yang 60 tahun tidak tahu bahasa dengan benar, toh tetap bisa bertahan hidup, beranak-pinak, dan mencintai serta patah hati. Jadi selow saja lah. Kita belajar bahasa bukan untuk memarah-marahi atau menyulitkan orang lain kan? Baru baca satu kata dalam KBBI, besoknya sudah menghakimi kesesatan bahasa orang lain. Ini aneh.

9. Yang penting baik kepada orang lain, tidak peduli apa bahasamu!

Hal ini tak perlu penjelasan lagi, karena sudah lebih terang dari matahari. Sebagaimana kata sesepuh St. James Park, “Kalau kamu menolong orang lain, orang tidak akan tanya bahasamu apa.” Kecuali ia seorang fanatik ekstrimis intoleran radikal konservatif jumud cupet saklek dalam urusan bahasa.

10. Bersikaplah toleran! Hargai perbedaan dan kesalahan berbahasa

Sebagai penutup, kita harus menyadari kembali hakikat kita sebagai manusia yang penuh dengan kesalahan. Maka toleranlah terhadap setiap orang yang masih salah membedakan di- awalan dan kata depan, sekedar dengan sekadar, terlanjur dengan telanjur, atau masih memakai kata online daripada daring, timeline daripada linimasa. Karena apa? Toh kita sendiri juga pasti punya kesalahan. Lebih baik bermuhasabah, tangisi kesalahan pribadi, jangan sibuk mengurusi orang lain, cukuplah menghitung sendiri kesalahan kita dalam berbahasa, jangan merasa sudah paling suci, mau menjadi Nabi Bahasa, atau bahkan Tuhan Bahasa, dengan cara menyalah-nyalahkan orang lain. Mari, kita rangkul orang2 yang tidak bisa membedakan “di- kata depan dan awalan,” katakan, “Kamu tetap saudaraku. Kalau itu yang kamu yakini, ya sudah kuhargai.” Kita ini manusia, saudaraku, pusatnya kesalahan , duhai, tangisi diri-diri kita, hargai kesalahan orang lain. Sebagaimana kata Cuk Nan, “Anggaplah Bahasaku amburadul, lalu hakmu apa?” Bukankah Bahasa yang terbaik adalah Bahasa yang dengannya merangkul manusia dan tidak menyalah-nyalahkan siapapun? Itulah bahasa yang sejati, bahasa kemanusiaan.

Sekian, terima hujan.

Advertisements