Berikut ini 10 list cerpen favorit yang dibuat dalam waktu singkat. Seandainya dibuat dalam waktu yang lebih lama mungkin daftarnya bisa lebih spesifik, seperti misalnya khusus cerpen lokal, atau rentang waktu tertentu, dsb. Pasti banyak yang sudah membaca cerpen-cerpen ini, jadi daftar ini buat yang kebetulan belum pernah baca. Secara umum saya menyukai cerita-cerita yang sederhana, lepas, santai, cuek, rileks, aneh, cenderung ngawur, gitu-gitu lah, gak dipenuhi aransemen kata yang canggih dan membingungkan. Sebagaimana kata Seno Gumira bahwa penulis yang keren itu yang sudah pinter ngibul, alias bermain-main dalam ceritanya.

10. Midnight Express – Bre Redana

Cerpen ini mengisahkan kereta Pandanwangi yang tiba-tiba beroperasi lagi untuk mengantar Pangeran Kegelapan menemui seorang wanita penari tayub di Kedungjati. Cerita cinta yang absurd ini disampaikan dengan begitu ringan, perpindahan setting dari Jakarta ke daerah pedalaman, kisah pertemuan yang misterius, seperti disuguhkan dongeng renyah di malam bertabur gerimis. Tapi kayaknya saya belum menemukan link cerpen ini di internet.

9. Ketiak – Bakdi Soemanto

Ini cerpen lama tahun 1970. Dan link-nya juga sulit ditemukan di internet. Mengisahkan seorang anak yang menginap di rumah kakaknya, lalu di malam hari mendengar pertengkaran sang kakak dengan suaminya, hanya karena masalah ketiak kakaknya yang cepat berlubu lebat. Konflik sederhana, dengan dialog-dialog yang lucu sampai menyangkut seniman dan pengarang, membuat cerpen ini sangat keren.

8. Lagu di Atas Bus – Hamsad Rangkuti (link)

Cerita ini juga idenya sederhana, hanya masalah lagu yang diputar di dalam bus. Ada penumpang minta lagunya diganti sesuai seleranya, setelah diganti, tak lama kemudian, penumpang lain minta lagu diganti lagi, kemudian begitu seterusnya sampai ada yang bawa pistol dan minta lagu diganti sesuai keinginannya. Sangat menakjubkan Pak Hamsad bisa dapat ide dari kejadian sepele hingga menyindir isu-isu besar sampai ke nasionalisme.

7. Sepi pun Menari di Tepi Hari – Radhar Panca Dahana (link)

Kalau ini cerpen yang taktis, seperti nonton film pendek. Ada kalimat intro, ada kalimat penutup. Diceritakan dengan dua sudut pandang berganti-ganti dan narasi yang cepat, tentang pertemuan sepasang laki-laki dan perempuan, kemudian menikah, kemudian mulai ada konflik rumah tangga, dengan ending yang sangat sadis sekaligus sangat romantis. Cerpen ini memang layak terpilih judul buku Kompas tahun 2003.

6. Tuhan Maha Tahu, Tapi Ia Menunggu – Leo Tolstoy (link)

Saya juga menyukai cerita yang penuh pesan moral selama tidak menggurui seperti sinetron-sinetron religi. Dan Tolstoy benar-benar membuat satu kisah menakjubkan tentang cerpen yang menyangkut Tuhan. Tidak seperti cerpen Indonesia kontemporer yang seolah menjadikan sosok tuhan seperti lelucon atas nama kebebasan berpikir, Tolstoy menempatkan-Nya dalam posisi yang semestinya. Cerpen ini adalah ilustrasi dari perjalanan takdir manusia yang misterius.

5. Seorang Wanita dengan Parfum Obsession – Seno Gumira Ajidarma (link)

Seharusnya ada banyak cerpen SGA yang lain yang lebih layak masuk list. Cerpen Seorang Wanita dengan Parfum Obsession ini tergolong cerpen yang santai, lucu, sekaligus jenius. Dialog berikut ini sangat memorable bagi saya:

Aku bertemu dengan wanita berparfum Obsession ini lewat telepon. Rupa-rupanya telepon nyasar.

“Jadi, ini bukan nomor heweshewesheweshewes?”
“Bukan, ini nomor hawushawushawushawus.”

4. Seorang Gadis yang 100 Persen Sempurna – Haruki Murakami (link)

Cerpen Murakami ini juga sangat simpel, tentang seorang yang bertemu gadis yang menurutnya 100% sempurna, kemudian mereka berjanji di masa mendatang akan bertemu lagi, kalau memang jodoh, pasti ketemu tanpa kesulitan. Dan ketika cerpen ini berakhir, bisa saja ceritanya masih belum berakhir dalam pikiran kita.

3. Sentimentalisme Calon Mayat – Sony Karsono (link)

Nama Pak Sony Karsono cukup mengejutkan buat saya, karyanya sedikit, namanya tak begitu terkenal, tapi gaya bahasanya amat sangat padat dengan imajinasi serba liar, aneh, dan sadis. mengingatkan dengan gaya film Pulp Fiction karya Quentin Tarantino. Sentimentalisme Calon Mayat mengisahkan seorang anak yang sudah tidak peduli dengan ayahnya, anak yang kemudian melalui banyak adegan gila dalam hidupnya.

2. Lelaki yang Memanggil Teresa – Italo Calvino (link)

Barangkali selamanya saya akan cemburu dengan cerpen ini. Adakah cerita yang idenya lebih sederhana dari ini? Cuma seorang lelaki menghadap sebuah gedung lalu mulai memanggil “Teresa!” kemudian satu demi satu orang-orang mulai membantunya, ikut berteriak, “Teresa!” Sampai ketika si lelaki ini pergi, orang-orang masih saja ada yang memanggil Teresa. Padahal nggak ada apa-apa.

1. Gank – Syahril Latif (link)

Cerpen ini membuat saya terkaget-kaget bahagia. Betapa cuek penulisnya, betapa elite caranya mengisahkan sesuatu yang sebenarnya bukan hal baru. begitu dekat dalam keseharian, begitu akrab. Tapi di tangan Syahril Latif, semua itu seperti jadi pertunjukan yang lucu. Mulai dari menyindir pejabat, sampai memasukkan ayat dan hadits tanpa menjadikannya cerita religi. Pengarang benar-benar berada di zona netral terhadap tokoh-tokohnya, sekaligus seperti sangat merdeka dalam menyampaikan isi pikiran. Semacam puncak dari tujuan sebuah cerpen yang sebenarnya.

Advertisements