Aku Tahu
aku tahu, hatimu yang gerimis itu kau sembunyikan baik-baik, saat kau lepaskan baju, dan waktu pun menyusut. Siapa tahu, orang lain juga sedang mengintipmu di balik celah pintu. Berdebar, mengikuti arah angin gemetar. Tetapi aku tahu, hatimu senantiasa basah oleh gerimis, rindu yang asing terus kau tanam di dalamnya. Hari-hari terkapar, dalam lambaianmu aku berkaca, tentang ruang yang paling setia menaburkan benih kesunyian. Ah, kau masih di situ, mengangguk pada waktu, pada jam dinding yang berbisik—kapankah aku kau bukakan pintu.
Continue reading