Sihir Mimpi

(Tribun Jabar, 4 Desember 2011)

Mata lelaki itu mulai memerah, ibu tersengal, memegang gagang pintu, bersiap untuk lari. Tetapi lelaki itu bergerak lebih cepat, dia melompat dan menjambak rambut ibu. Teriakan lantas menggema, erangan, jeritan, bercampur baur dengan desis udara malam di ruangan remang itu. Malam sepertinya telah begitu larut, teriakan ibu mengendap pada dinding lembab dan lantai yang retak. Ibu meronta, namun cengkeraman itu justru kian erat. Sesaat kemudian, lelaki itu tertawa, wajah menyala menampakkan senyuman legam. Sebuah pisau diayunkan, kilatnya di udara seperti petir dalam riuh hujan…

Kuceritakan mimpiku pada ibu. Tentang seorang lelaki yang berhasrat untuk membunuhnya. Membunuhnya berkali-kali setiap kali aku bermimpi. Seperti sebuah ritual yang abadi. Tetapi ibu selalu tampak menyibukkan diri. Pagi ini, ibu sudah berada di dapur, kulihat ibu sedang mengulek sambal, menuangkan garam, merica, kemudian menghaluskan semuanya. Aku terdiam di belakangnya, duduk di sebuah kursi tanpa tahu harus melalukukan apa, aku anak perempuan tetapi aku tak bisa membantu ibu, tak seperti anak-anak perempuan lain yang membantu ibunya di dapur, entahlah, aku merasa sudah cukup remaja, namun ibu tak pernah mengajariku memasak, meracik bumbu, atau sekadar memotong-motong sayuran. Ibu mendiamkanku, membiarkanku hanya duduk di belakangnya seperti hari-hari biasanya.

Terdengar suara panci mendesis, ibu bangkit mengangkatnya, air sudah matang, ibu menuangkannya ke dalam termos. Tak ada satu pun kata yang ia ucapkan. Kuceritakan bahwa mimpi itu berulang hampir setiap malam, tidak bersambung namun berulang-ulang. Setiap kali aku mulai memejamkan mata dan kegelapan menyelimuti semestaku, aku seperti melihat layar yang sama, lelaki yang sama, dan seorang perempuan yang jelas sekali bahwa itu ibu. Tetapi ibu seolah tak peduli. Puluhan bahkan ratusan kali aku mencari waktu agar ibu mau mendengarkan ceritaku, siang hari ketika kami berdua di meja makan, atau sore hari ketika ibu selesai menonton televisi. Hasilnya nihil. Ibu seperti sengaja menolak. Pagi ini aku masih berusaha, dan gagal lagi. Ibu baru selesai mengosongkan panci, meletakkannya di tempat cuci piring. Ibu berpindah memotong-motong kubis, daun bayam, dan mengumpulkannya dalam sebuah wadah lalu merendam semuanya.

Aku melangkah keluar dari dapur, menuju ruang tamu tempat televisi menyala sendirian.

***

Ketika anakku terlahir sebagai perempuan, aku tahu janji dukun itu pasti terjadi. Janji itu seperti kutukan. Sudah beberapa kali aku bermimpi bahwa lelaki itu akan kembali, sepertinya aku terjebak oleh lingkaran takdir. Aku tahu, anakku juga merasakannya, ia pun mengalami mimpi itu. Setiap dini hari aku masuk ke kamarnya, aku melihat ia berbolak-balik di atas tempat tidur, tidurnya tak tenang, kuusap dahinya, tetapi keringat itu seperti tak pernah habis, mengucur, membasahi seprai dan bantal, bahkan ia seringkali mengigau dan meracau. Tentu saja aku merasa kasihan, amat kasihan. Mimpi itu telah memungut masa kecilnya, masa kecil yang seharusnya bahagia.

Ketika anakku berusia lima tahun, ia selalu kesurupan, dan setiap kali kesurupan ia seperti melakukan hal yang sama, ketakutan, matanya memerah dan membuat tatapannya seperti membakar. Mungkin ia tidak kuat mendapati mimpi yang sama setiap malam. Karena itulah sejak dahulu ia dijauhi, ia tak lagi mau keluar, bermain di halaman tetangga, ia malu karena kawan-kawannya takut untuk mendekat, kata mereka, anakku membawa setan. Maka anakku mulai mengurung diri, terkadang duduk di dapur ketika aku sibuk memasak dan mencuci. Terkadang mengurung diri di kamar, atau menghadap keluar jendela mengamati jalanan desa yang hiruk-pikuk. Tetapi satu hal yang membuatku teramat sakit, ia selalu menceritakan mimpi itu, padahal aku sudah berusaha untuk tak menanggapinya, namun aku tahu, itu bukan mimpi biasa, itu mimpi kutukan, dan aku harus melakukan sesuatu.

Pernah beberapa kali aku mendatangi beberapa orang pintar di desa tetangga, di depan aroma dupa yang menyengat itu kuceritakan semuanya. Kupaparkan keganjilan yang dialami anakku sejak ia berumur tiga tahun. Beberapa kali aku berpindah-pindah tempat, mencoba resep-resep tak masuk akal namun tetap kulakukan. Sayangnya, mimpi itu tak juga hilang, anakku terus saja menceritakannya hingga hari ini.

Haruskah aku kembali pada dukun yang satu itu? Ah, kalau aku bisa menolak sebuah penyesalan, pasti kejadian empat belas tahun lalu itu tak kulakukan. Aku tahu, semua berawal dari dukun itu.

Empat belas tahun lalu, aku meminta bantuannya agar mengenyahkan suamiku, suami yang setiap malam ingin membunuhku dan merampas segalanya hanya untuk berjudi dan mabuk-mabukan, suami yang dengan mudah mengancam dengan menggayunkan pisau di hadapanku. Dukun itu setuju namun dengan satu syarat yang sangat tak masuk akal: aku harus berhubungan intim dengannya.

Dalam kekalutan dan ketakutan yang memuncak terhadap suamiku, kupenuhi saja syarat itu. Dia menjamahku. Dan benar, selang beberapa hari, suamiku ditemukan mati mendadak di pos ronda tempatnya biasa berjudi. Menurut penuturan dokter, suamiku terkena serangan jantung. Aku pura-pura bersedih di hadapan banyak orang. Padahal di saat yang sama aku juga mendatangi dukun itu untuk mengucapkan terima kasih, namun apa yang terjadi? Ia justru mengucapkan syarat yang lain:

“Aku tahu, setelah suamimu mati, kau akan tetap hamil, dan itu anakku, hasil hubungan kita. Nah, jika kelak anakmu laki-laki, kau akan bebas. Tetapi jika anakmu perempuan, tubuhnya akan menjadi milikku, sama seperti kau. Kau tak bisa pergi, sebab sudah kutitipkan kutukan kecil untukmu, kutukan yang akan terus bekerja jika kelak kau berusaha melupakan ucapanku ini…”

Kupikir dukun itu hanya bercanda. Dan nyatanya aku salah.

Salah besar.

***

Tiba-tiba pagi ini ibu sudah berdandan, ia membangunkanku. Tak seperti biasanya, ibu menungguku mandi, menyisir rambutku, dan menyemprotkan wangi-wangian ke pakaianku.

Kupikir inilah saatnya bisa kuceritakan mimpiku, namun seolah amat tergesa, ibu segera mengajakku pergi dari rumah. Tanpa banyak bicara, kami berjalan menyusuri jalanan desa, lantas naik angkot, turun di sebuah perempatan sepi yang memperlihatkan hamparan sawah hijau. Aku baru sadar, ibu membawaku ke sebuah tempat di luar desa, dekat dengan pegunungan.

“Mau kemana, Bu?” Tanyaku. Namun ibu tak menjawab, bahkan menoleh pun tidak. Aku hanya mengikuti genggaman tangannya, kami menyusuri jalan setapak yang penuh ilalang. Ibu menatap kedepan, jauh, dan aku semakin penasaran.

Beberapa menit kemudian sampailah kami di sebuah gubug. Ibu membuka pagar yang tak terkunci, melangkahi tanah berkerikil.

Kami berhenti di depan pintu.

***

Saat menatap pintu gubug tua ini, semua ingatan tentang masa lalu seperti menyatu kembali, tubuhku tidak selemah ini ketika empat belas tahun lalu aku datang dengan terbata-bata ke tempat ini. Suasana tak banyak berubah, pagar kayu, kawanan ayam mengais-ngais tanah, juga sepasang pohon mangga yang sepertinya tak pernah berbuah.

Aku tak tahu, apakah hari ini, tanggal ini, bulan ini, adalah saat yang sama seperti hari itu? Seakan-akan aku tak pernah beranjak. Dahulu aku datang sambil menahan sakit pada wajah, badan, hingga ujung kaki akibat siksaan suamiku, sekarang aku datang dalam keadaan baik-baik saja, tetapi batinku koyak, kugenggam tangan anak gadisku. Kuketuk pintu beberapa kali.

Pintu terbuka, sesosok laki-laki tua muncul dari keremangan. Ya. Dukun itu, tersenyum melihat kedatangan kami.

“Nah, akhirnya kau muncul.” Katanya.

Aku hanya mengangguk, seakan terhipnotis.

Dukun itu masih sama, seperti empat belas tahun lalu, seakan ia bisa mempertahankan kekuatan di setiap jengkal tubuhnya. Ketika memandang wajahnya yang tajam, aku masih ragu, untuk apa aku datang lagi ke tempat ini? Setelah dahulu aku menyerahkan tubuhku kepadanya, haruskah kuserahkan tubuh anak gadisku kali ini?

Tiba-tiba ada keinginan untuk lari dan membatalkan semuanya, menyelamatkan anak gadisku dengan cara lain. Keinginan yang tampaknya sudah terlambat.

***

Aku selalu takut dengan malam, dengan suara kerisik pepohonan yang seperti berkelahi dalam kesunyian. Aku lupa kapan terakhir kali aku mencintai malam, seperti kapan terakhir kali kurasakan kecupan ibu di keningku menjelang tidur. Sejak mimpi itu menjadi teman, aku tak pernah ingin malam tiba, aku selalu ingin cahaya, cahaya terang yang membuatku seperti berenang-renang dalam ketenangan. Mengapa malam selalu dekat dengan ketakutan? Bahkan suara cicak di langit-langit seperti aroma bahaya yang begitu nyata menyentuh leherku.

Tetapi semuanya telah berubah, seperti keyakinaku, hidup pasti berubah, dan mimpi itu menghilang dengan sendirinya. Kuceritakan bahwa aku tak lagi bermimpi, ibu senang sekali. Ia selalu memandangiku dengan senyuman kasih sayang.

“Anakku.” Ucap ibu yang kini berada di sampingku. Ini bukan bayangan, ini nyata. Aku tak tahu ibu hendak berucap apa selanjutnya, yang pasti, tiba-tiba ibu mendekapku amat erat. Kudengar detak jantungnya, kudengar dengus napasnya. Dekapannya terasa hangat. Aku senang, akhirnya aku mendapat dua kebahagiaan sekaligus: mimpi-mimpi itu ternyata tak pernah datang lagi, dan aku merasakan ibuku kembali, bahkan ibu mulai mengajariku memasak. Aku seolah telah kembali ke dalam kehidupan normal seperti anak gadis lainnya.

Tetapi, ada satu hal lain yang belum sempat kuceritakan pada ibu, entah mengapa di beberapa malam terakhir ini, perutku sering tiba-tiba terasa mual sekali.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.