Kebun Surga
04 Sep 2011 Leave a Comment
in Cerpen
(Kedaulatan Rakyat, 4 September 2011)
Seorang saudagar bermimpi menemukan sebuah kebun yang kesuburannya melebihi semua lahan yang ia miliki selama ini. Kebun itu dilindungi oleh barisan pepohonan, juga lengkung perbukitan di kejauhan. Ada banyak buah dan sayuran yang tumbuh di kebun itu, dan semuanya tampak segar dan amat terawat.
Keesokan harinya ia memanggil seluruh pelayan dan pengawalnya yang setia. Mereka dikumpulkan di halaman depan. Dan sang saudagar pun menyampaikan keinginannya:
“Semalam aku bermimpi dan melihat kebun yang kesuburan dan keindahannya tak pernah kulihat sebelumnya. Kebun itu jauh melebihi kebun-kebun yang kumiliki selama ini. Karena itulah, aku ingin mencari di mana letak kebun yang ada dalam mimpiku. Kalian bersiaplah untuk sebuah perjalanan yang mungkin akan jauh sekali… Sebab aku baru saja bertemu ahli tafsir mimpi dan berkata bahwa kebun itu mungkin saja ada. Aku yakin bahwa tak ada sesuatu di dunia ini kecuali kenyataan, karena itulah, kita akan mencarinya…”
Para pelayan dan pengawal hanya berpandangan. Atas nama kesetiaan, mereka pun tak menolak setiap perintah, kecuali sang penasihat yang sepertinya memiliki pendapat lain.
“Apakah setiap yang Anda impikan, ingin Anda dapatkan?” Tanya sang penasihat dengan nada bijak.
“Tentu saja. Mimpi itu begitu nyata, bahkan aku bisa merasakan aroma kebun itu di dalam kamar tidurku…”
Dan penasihat itu pun hanya diam.
Tiga hari kemudian, Saudagar beserta duapuluh pengawal dan pelayannya meninggalkan rumah yang selayak istana itu. Mereka mengikuti arah yang ditunjukkan si ahli tafsir mimpi, bahwa kebun itu ada di bagian Timur. Mereka pun berjalan ke Timur, melewati perkampungan, menyeberangi sungai, sampai bertemu sebuah hutan dengan jalan setapak.
Di sana sang saudagar melihat seorang tua yang baru muncul dari dalam hutan.
“Maaf Tuan,” panggil saudagar itu, “apakah anda tahu di mana letak kebun surga?”
Lelaki itu tampak mengangguk-angguk. “Ikuti jalan setapak ini, nanti Anda akan menemukannya.”
“Benarkah?” Wajah saudagar tampak cerah sekali.
“Benar. Tapi… Jalan setapak ini akan selalu bercabang, ke kanan dan kiri, setiap kali Anda menemukan jalan ini bercabang, Anda harus memilih salah satu jalan, sebab hanya ada satu jalan menuju kebun surga, sementara satu jalan lain menuju hutan belantara tak berujung. Ikuti naluri anda, kanan atau kiri, semuanya berganti-ganti.”
Saudagar itu tak mengerti, tapi ia berterimakasih saja pada lelaki tua itu, lantas saudagar beserta pengawal-pengawalnya mulai memasuki hutan, mengikuti jalan setapak.
Dalam limabelas menit pertama, tiba-tiba jalan itu bercabang, kanan dan kiri, sang saudagar bingung, untuk menyiasatinya, ia menyuruh dua pengawal berjalan ke kiri, sementara saudagar ke kanan. Jika kedua pengawal itu menemukan kebun, mereka harus segera kembali dan melaporkannya.
Dua puluh menit kemudian, jalan bercabang lagi, saudagar itu kembali menyuruh dua pengawal lain berpisah, kali ini saudagar ke kiri, dan dua pengawal ke kanan.
Jalan setapak di tengah hutan itu terus menerus bercabang hingga akhirnya tinggal saudagar dan penasihatnya.
“Kau ke kiri, aku ke kanan.” Ia memerintah.
Jadilah sang saudagar kini sendirian, ia terus berjalan, mulai kelelahan menyibak rimbun hutan. Entah sudah berapa jam berlalu. Matahari tak terlihat.
Dan tepat ketika jarak antara Saudagar dan kebun itu tinggal berbatasan satu lembah, Saudagar itu menghentikan langkahnya, kali ini ia benar-benar kehabisan tenaga dan mengantuk. Akhirnya ia pun tertidur di atas tanah basah.
Dalam tidurnya itu ia bermimpi lagi. Kali ini ia melihat sebuah kebun yang porak-poranda, semua tanaman berserakan ranting-rantingnya dan ada bekas-bekas terbakar…
Tak lama kemudian muncul seorang yang sedang mengumpulkan puing-puing tanaman itu. Sang saudagar segera mendekatinya.
“Tempat apa ini?” Tanya Saudagar itu. Orang tadi menoleh, yang ternyata adalah seorang tua yang ia temui di awal jalan setapak menuju hutan…
“Ini Kebun Surga.”
Mendengar jawaban itu. Sang Saudagar panik.
“Tidak mungkin… Apa yang sudah terjadi?”
Si lelaki tua menunduk, “Kemarin tanah ini masih subur, tapi si pemilik telah membakarnya pagi tadi.”
“Apa? Berani sekali. Temukan aku pada pemiliknya.”
“Anda ingin bertemu?”
“Ya. Katakan padaku siapa pemiliknya?”
“Tuhan.”
“Tuhan?”
“Ya. Tuhan yang memiliki kebun ini. Dan Ia telah berkehendak menghancurkannya.”
Saudagar itu tersentak. Ia terjaga dari tidurnya. Napasnya tak teratur. Ia bangkit dan menyadari bahwa segalanya kini sia-sia. Ia melihat sekelilingnya, ia tak membawa bahan makanan, ia segera kembali menembus jalan yang pernah dilaluinya, ia berlari dengan sisa tenaganya, beberapa kali ia tersandung, kakinya tersangkut ranting, terjatuh, bangkit, terjerembab lagi. Napasnya tersengal, ia berusaha kembali ke rumahnya yang megah, tapi tenaga telah habis, tak ditemukan seorang pengawal pun,dan ia pun tersesat…
Sementara Kebun Surga itu masih tetap di sana. Masih subur, tak terjadi apa-apa.
Tak seorang pun pernah mencapainya.***