(Jurnal Nasional, 29 Mei 2011)
Kalau sedang memandangi rembulan pucat, aku teringat dengan Kilana. Seorang gadis jelita, kulitnya kuning langsat, langsing, rambutnya sedikit berombak, bibirnya tipis dan merah, suka menyanyi, suaranya indah, cara bicaranya indah, langkah kakinya indah, senyumnya indah, singkatnya, ia memang sangat indah. Tetapi tentu saja Kilana bukan kekasihku, atau kawan dekatku. Kilana hanyalah seorang pembantu di rumahku, atau lebih tepatnya lagi, mantan pembantu.
Sudah genap setahun sejak Kilana meninggalkan rumah ini tanpa kabar. Ia pergi begitu saja, melompati pagar setelah keluar lewat jendela kamar. Aku tak tahu apa yang terjadi waktu itu, meski beberapa hari sebelum peristiwa itu, Kilana—gadis yang selalu tampil rapi meski hanya pembantu ini—tiba-tiba mengaku padaku bahwa ia tak betah di rumah. Mungkin ibu terlalu mengekangnya, atau memberi pekerjaan yang terlampau berat baginya. Aku sendiri memang tak begitu berani mengintervensi ibu. Sejak ayah meninggal, ibu memang memegang seluruh kendali rumah ini. Tetapi ada satu hal yang berbeda dari ibu. Dulu, ketika ayah masih ada di antara kami, ibu selalu tampak ceria, tampak bahagia. Bahkan ibu punya hobi merawat bunga-bunga yang ditanam di barisan pot kecil di halaman rumah. Namun selepas kepergian ayah, ibu jadi keras, jarang tersenyum, lebih banyak sibuk di luar rumah. Bunga-bunga itu ditelantarkan begitu saja, untunglah masih ada Kilana yang merawatnya. Sementara kalau sedang berada di rumah, ibu hanya suka marah-marah.
Dan Kilana adalah yang paling sering menerima amarah ibu. Seringkali kupergoki Kilana menangis terseduh-sedu, terduduk di lantai. Sementara ibu berteriak-teriak, mencaci-maki, berkata bahwa kerja Kilana sama sekali tidak becus, tidak beres. Ah, sejak ayah meninggal, apa sih yang beres di rumah ini?
Tetapi, kalau ibu sedang tidak di rumah, tiba-tiba saja Kilana seperti menjadi kawan yang baik, sikapnya begitu hangat dan pengertian. Kami berdua suka duduk di teras rumah, namun tidak berdampingan, aku duduk di kursi sambil sesekali memetik gitar, sementara Kilana duduk di lantai, kadang memandangi bunga-bunga pekarangan, kadang pula melihat ke langit luas.
“Malam ini rembulan sangat pucat, Mas Gayuh.” katanya padaku pada suatu malam. Kilana tersenyum, aku melihat tepi wajahnya, seperti ada butiran embun yang ingin jatuh bergegas. Ah, matanya itu, semacam isyarat langka tentang kebahagiaan yang terbungkus kepedihan. Apaka hati Kilana juga pucat seperti rembulan?
“Rembulan itu selalu sama. Mungkin mendung yang membuatnya tampak pucat,” jawabku santai. Aku tak tahu seberapa pentingkah memandang rembulan. Tetapi aku tahu, Kilana juga seorang gadis, sebagaimana gadis-gadis yang berseliweran di kampusku, ia pasti suka membayangkan hal-hal sederhana semacam itu. Bukankah bulan adalah lambang romantisme? Mungkin Kilana membayangkan seorang pangeran yang muncul dari bulan, naik kuda terbang, dengan sayap melayang-layang nan cemerlang, lalu membawanya pergi ke sebuah istana selepas hujan.
“Suatu saat, aku ingin ke bulan,” Kilana berkata lagi, “aku ingin tahu, kenapa kadang-kadang bulan tampak pucat.”
Nah, benar. Kilana juga suka berimajinasi. Tetapi yang menarik, tiba-tiba ia mengganti kata “saya” dengan “aku”. Padahal secara sistematis, meski kami seumuran, aku adalah majikan Kilana, itu artinya Kilana harus hormat kepadaku. Karena itulah, dia harus menggunakan kata “saya” daripada “aku”, bahkan ibuku mengajarkan pada Kilana untuk memanggilku “Tuan”, kadang aku senang pula dipanggil Tuan, apalagi ditambahi kata “Muda”, jadi “Tuan Muda Gayuh”, kalimat yang paling sering kudengar: “Tuan Muda Gayuh, makanan sudah saya siapkan.”
Tetapi lama kelamaan aku risih juga dengan panggilan semacam itu, mungkin Kilana pun tahu bahwa aku risih. Lagipula rumahku tergolong biasa-biasa saja, tak sampai megah seperti istana. Jadi ia memanggilku Tuan jika dan hanya jika ibu sedang di rumah. Sementara ketika sedang memandangi bulan pucat berdua di teras rumah, Kilana seperti gadis belia yang bebas dan menyenangkan.
“Jadi kamu mau ke bulan?” Tanyaku sedikit heran.
“Iya.”
“Naik apa?”
“Naik kereta.”
“Hahaha.” Aku tertawa. Kilana hanya tersenyum. Bibirnya seperti bunga yang rekah. yang tak mudah untuk dipetik.
“Kenapa tertawa? Aku yakin, suatu saat ada kereta menuju bulan.” ucap Kilana kemudian.
“Kereta apa?”
“Entahlah. Yang pasti bukan kereta odong-odong Argo Gentong.”
“Hahaha.”
Kami tertawa lagi, Kilana memang pandai bercanda, atau setidaknya, pandai menciptakan suasana menyenangkan meski dengan cara yang amat sederhana.
Suasana semacam itu seperti selalu berulang setiap kali aku melihat bulan pucat bertandang di langit. Padahal aku tahu, Kilana jelas bukan gadis bulan, atau lahir dari pecahan bulan. Tetapi bulan seperti merekam kenangan akan dirinya, seperti memantulkan apa yang terpendam di dalam hatinya. Dan sekarang, setelah kepergiannya, kenangan-kenangan itu hadir di sini. Terkadang kupandangi kamar Kilana yang telah lama kosong, berganti gudang, sebab pembantu baruku lebih suka ditempatkan di kamar lain yang lebih luas karena membawa seorang anaknya yang masih SD. Terkadang aku membayangkan harum tubuh Kilana, suara nyanyiannya dari dalam kamar—atau tangisannya yang selalu tersengal. Terkadang kubayangkan titik-titik air yang jatuh ketika ia menyisir rambut hitamnya yang basah sambil menghadap cermin. Kenangan tentang Kilana menjadi serba minimalis dan mencemaskan. Ia memang tak menitipkan apa-apa di tanganku, namun segalanya terekam dalam ingatanku.
Apakah aku sudah gila?
Mungkin, di suatu tempat yang entah di mana, Kilana juga memandangi rembulan malam ini dari balik jendela kamarnya. Itu pun kalau ia sudah diterima kembali menjadi pembantu yang majikannya tidak segalak ibuku. Sebab setahuku ia yatim piatu, juga tak punya rumah. Tetapi mungkin juga saat ini Kilana sudah sampai di bulan, duduk di kursi-kursi cahaya, memandangi bumi yang pernah ditempatinya… Ah, tunggu, jika memang Kilana sudah sampai di bulan sebagaimana yang dicita-citakannya, alangkah memalukan sekali kalau ia tahu aku sedang memandanginya malam ini?
Maka bergegas kututup jendela rapat-rapat, dan di dalam kamar sepi ini, kunyalakan seribu lentera kerinduanku kepadanya.***