(Minggu Pagi, 3 April 2011)
Gadis itu bangkit dan menyibak tirai ungu dan membuka jendela dan melihat burung-burung seakan menetas dari rahim matahari yang sinarnya kuning kemerahan menyinari barisan atap rumah baik yang tinggi maupun yang rendah sebagaimana yang selalu ia lihat setiap pagi dari balik jendela kamarnya.
Ia singkap tirai dan mengarahkan wajahnya ke cahaya matahari sehingga cahaya yang sedikit hangat itu pun menyentuh pori-pori pipinya yang lembut dan putih. Cahaya itu tak memantul kembali, melainkan seolah meresap dan terus meresap mendiami rongga-rongga kecil di balik kulitnya. Betapa setiap yang memandang wajahnya ingin menjadi cahaya yang dengan bebas meraba kulit itu hingga seakan-akan ada jaring yang ringan yang siap menawarkan keindahan bagi siapapun yang masih bisa merasakan getaran yang menghanyutkan. Seperti cinta, seperti romansa, seperti perasaan yang memuncak pada pandangan pertama. Namun gadis itu merasa tak seorang pun melihatnya pagi ini, setidaknya itu yang ia perkirakan. Meski pastilah ada pemuda-pemuda putus asa yang selalu setia menunggu momen sederhana di pagi itu dengan bersembunyi di tempat yang sempit dan tersembunyi entah di mana. Seakan-akan ketika gadis itu bangkit dan menyibak tirai sewarna pipinya dan membuka jendela maka dimulailah keindahan dunia. Selalu ada beberapa pemuda yang setia bersembunyi di balik rimbun semak yang berada di seberang selokan itu, atau yang sengaja lewat tanpa alasan kecuali sekadar ingin melirik sebentar ke arah sebuah kamar yang jendelanya baru saja terbuka dan tampak cahaya matahari menerangi sosok seorang gadis yang meski dengan rambut panjang yang kusut namun tetaplah membahagiakan setiap penikmatnya. Apakah rambut kusut selalu menyebalkan? Sepertinya itulah puncak dari imajinasi, seorang gadis dengan wajah pucat yang dari jauh hanya tampak samar-samar namun jelas sekali rambutnya yang panjang berombak itu terurai tak karuan sehingga membuat gadis itu tampil lebih alami, terkadang seseorang mencintai sesuatu yang alami, seorang gadis yang tak peduli dengan kecantikan buatan yang menebal di wajahnya, ia biarkan keriput kalau memang keriput itu muncul seperti kawah kecil di permukaan kulitnya. Tetapi gadis itu tak merasakan apapun di wajahnya kecuali keindahan yang semakin sempurna karena berselaput cahaya matahari.
Itulah pemandangan yang biasa dilihat sebelum beberapa tahun berikutnya gadis itu tiba-tiba menghilang dan rumah itu tampak kosong, sama sekali kosong dan gelap. Di malam hari ketika beragam penjual keliling melintas tak tampak lagi ada penerangan di rumah itu. Seakan-akan menjadi rumah yang benar-benar kosong dan ditinggalkan untuk selamanya hingga menunggu suatu saat akan digusur atau dirobohkan begitu saja atau dibiarkan terkubur bersama semak belukar yang kian meninggi.
Konon, hingga hari ini pun, masih ada beberapa pemuda pengangguran yang berkumpul di pos ronda selepas shubuh hanya untuk membayangkan suatu saat jendela kamar itu akan terbuka lagi dan muncul sesosok gadis jelita berambut kusut yang wajahnya segera diterpa cahaya matahari pagi yang kuning kemerahan atau merah kekuning-kuningan—ah sama saja. Tetapi mengapa tak seorang pun berusaha mencari tahu di mana gadis itu sekarang tinggal?
Tahun demi tahun berlalu masih saja ada yang bertahan untuk bersembunyi atau pura-pura melintas demi mengamati sebuah rumah yang tak berpenghuni itu. Hingga puluhan tahun pun berlalu dan ketika rumah itu masih saja kosong sementara pemuda-pemuda yang dulunya setia menunggu kini sudah menjadi dewasa dan pergi untuk mencari hidup yang lebih berguna ketimbang menjadi pengangguran abadi hanya demi memuja seorang gadis pagi hari di desa yang tak menjanjikan sebuah penghidupan yang pasti, mereka pun menitipkan cerita yang tak masuk akal ke pemuda generasi berikutnya di desa itu, bahwa ada sesosok gadis yang dulunya suka bangun agak terlambat dan membuka jendela untuk menerima mentari pagi yang bersinar begitu segar. Tetapi tak seorang pun kini percaya, sebab rumah kosong itu semakin tak terawat dan dikelilingi tumbuhan rambat bahkan pohon-pohon mangga mulai kering dan daun-daunnya tak pernah dibersihkan. Rumah itu pun menjadi angker karena pada akhirnya yang tampak hanya kegelapan dan tak ada lagi serat-serat keindahan. Namun dari sekian pemuda yang pergi merantau, ada juga mantan pemuda yang tak pernah meninggalkan desa itu, sekarang pemuda itu telah menjadi orang tua dan masih suka berjalan di depan rumah tersebut hanya untuk mengenang masa lalunya, ia pun seringkali ditanya pemuda-pemuda saat ini yang masih saja penasaran dengan kisah gadis yang hanya tampak di pagi hari itu.
“Benarkah pernah ada seorang gadis cantik yang mendiami rumah di dekat perempatan itu?” Tanya salah seorang pemuda kepadanya ketika mereka sedang bercengkerama di sebuah warung kopi sore hari.
“Benar. Dulu sewaktu saya masih sekolah, saya suka melihatnya di sana setiap pagi, membuka jendela kamar.”
“Siapa namanya?”
“Tidak tahu.”
“Kok tidak tahu?”
“Memangnya saya wajib tahu?”
“Bapak dulu melihatnya setiap hari?”
“Tentu saja. Tak pernah saya lewatkan.”
“Setiap hari Bapak melihatnya tapi tak pernah tahu namanya dan tak ada niatan untuk mengenalnya lebih dekat atau setidaknya mencari tahu namanya?”
“Sepertinya begitu.”
“Ah, kenapa bisa begitu?”
“Karena dulu kami ingin membiarkannya misterius. Gadis itu indah karena ia misterius.”
“Apa gadis itu juga terlihat di siang atau malam hari? Apa Bapak pernah berpapasan dengan gadis itu di jalan atau di warung atau di mana saja?”
Si mantan pemuda itu berpikir beberapa menit. Tiba-tiba saja ia sadar. Gadis itu memang hanya terlihat di pagi hari ketika mentari baru saja memanjat cakrawala sambil membiaskan warna merah kekuningan. Namun ketika beranjak siang gadis itu tak tampak lagi, bahkan tak pernah diketahui kapan gadis itu keluar rumah hanya untuk sekadar membeli kebutuhan makan sebab ia sepertinya tinggal sendirian di rumah itu.
Orang tadi kebingungan, logika dalam pikirannya berantakan, ia mencoba untuk mencari pembenaran tentang keberadaan gadis itu namun ternyata yang ia dapat hanya kebuntuan.
Apakah yang dilihatnya di masa lalu itu adalah hantu penunggu rumah kosong?
Mungkin memang hantu. Tetapi, hantu macam apa yang berambut kusut dan tak takut menerima cahaya matahari? Hantu macam apa yang justru membuka jendela dan membiarkan matahari pagi menerpa wajahnya sehingga bercahaya begitu gemilang?
Malam hari itu juga, orang tersebut sengaja melintas di jalan raya depan rumah gadis pujaannya di masa lalu, ia berhenti sebentar dan melihat rumah itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, bulu kuduknya merinding, ia tatap rumah itu lebih lama, ia tatap kamar itu lagi, dan ia pun tersentak, seakan-akan jendela yang selama ini selalu tertutup tersebut kini tiba-tiba menyala dan begitu cepat menjelma sepasang mata yang memandang dengan amat tajamnya.***