(Global Medan, 12 Maret 2011)
“Sudah kukirimkan sebuah undangan untukmu.”
Hanya undangan. Lalu November datang dengan rapuh, tak ada bunga-bunga tumbuh, tak ada kuncup daun segar. Tiba-tiba November terbingkai oleh jadwal-jadwal kesedihan, ritual kebencian, seperti kehadiran hujan yang terkadang tak diharapkan. Dan dalam November ini tak ada kehidupan selayaknya, setidaknya di rumah ini, di tubuh pemuda ini. Ia termenung, membayangkan retakan hati yang mendadak harus ditempuhnya, hari-hari November adalah guguran ranting jam dinding di matanya, yang tak terbaca, tak tercatat, tetapi senantiasa berkelebat melukis dinginnya napas yang terlambat.
Di tubuh pemuda ini, November sekejap buram, bukan oleh embun, tetapi oleh sebuah napas yang memendek. Napas November membentuk intonasi tersendiri untuk merayakan kesepian. Mari sejenak kita berada dalam kesunyian, katanya. Di manakah semua orang? Di mana setiap kesibukan? Kita rayakan hari-hari kehilangan.
Apakah hari-hari akan tetap gugur seperti garis-garis air? Seperti jam yang sekarat? Seperti arloji di pergelangan tangan yang kurus? Kemanakah hari-hari itu bermuara, mengendap, mengalir, dan gugur kembali?
Hanya undangan.
“Jangan lupa, di hari-hari setelah pertengahan November.”
Suara musik blues terdengar dari sebuah kamar, seperti membentuk dunia lain, yang tak terjamah oleh November yang mengirimkan setiap kesedihannya ke dalam mata pemuda ini. Tetapi di manakah keriuhan kota? November yang nyaris mati ini tiba-tiba hanya berisi kerumunan pelaminan, segalanya muncul dari radio, telepon genggam, televisi, hingga kotak surat yang dititipkan, semuanya memiliki lubang kunci yang sama: mempelai berbahagia, bersembunyi di kamar-kamar mutiara. Datanglah selanjutnya amplop-amplop yang membuatnya harus berdiri di tengah resepsi, tanggal 13, tanggal 21, tanggal 29. Angka-angka itu menempel di kedua belah matanya. November terasa jatuh lebih awal, dari dahan pohon asam yang merunduk pasrah di rumahnya yang tua. Selalu rumah, manusia tak lebih kekal dari rumah yang dibuatnya sendiri, dari kesedihan yang diciptakannya sendiri. Hanya undangan, lalu November menjelma kamar yang bisa berbicara, lewat uap, lewat kerutan mendung yang menyelimuti sebuah pesta perkawinan. Bahkan November tak mengawinkannya dengan televisi, televisi sibuk membasmi ramalan cuaca dengan hiruk-pikuk pesta. Sebuah pesta yang sama, di bumi yang sama, di langit yang sama, dengan tokoh yang berbeda. November pun menyajikan panggung terindah tanpa pintu, panggung tertutup yang membuat udara seperti menyatu dengan maut. Selamat datang di resepsi kehilangan, ambil topimu dan menarilah dengan kabut kesendirian.
“Mulai sekarang kamu tak perlu mencintaiku lagi.”
Hanya undangan.
Pemuda ini mengagumi kehancuran yang tiba-tiba di hadapannya. Ia ingin menuliskan sebuah judul lagu dari Alesana: Congratulations, I Hate You. Tetapi ia berhadapan dengan kertas berbalut huruf-huruf keindahan, ia menjadi kado bagi November yang tergeletak hitam, November yang belajar membasahi setiap kamuflase kesunyian.
“Apa kamu pasti datang?”
Suara itu lahir tanpa nada, tanpa gemulai tarian seorang Ballerina yang memukau penonton dengan panggung berlantai kaca, atau seperti Tuxedo yang terbunuh oleh lilin-lilin dansa. Suara itu hadir bersama aroma kepergian yang sengau di tengah November, tetapi dalam diam pun pemuda ini memang sedang merenungi ritual perpisahan, sebab perpisahan yang lebih kekal dari sekadar ucapan selamat tinggal. Pemuda ini seakan berada di sebuah rumah tanpa langit-langit, matahari tampak merias langit dengan warna putih menyala, putih November. Jalanan menjadi gersang, hati-hati, kerikil sedang tajam, ingatan sedang diasah untuk terus bergulat dengan kenyataan. O, siapakah yang berjalan di bawah November tanpa payung itu? Seseorang memang harus selalu berjalan, meski dalam diam. Terdengar suara sungai yang keropos, kaki-kaki kecil belalang, kematian yang mengintai satu meter di belakangnya. November tak pernah mengisahkan sebuah cita-cita. November melupakan hujan yang membungkusnya ketika ia masih berupa janin sebuah cuaca, dari sepotong musim yang mengoyak senyum-senyum manusia.
***
“Maaf. Aku tidak bisa datang, aku tidak kuat.”
“Datanglah, sebagai penghormatan terakhirmu.”
“Penghormatan terhadap apa?”
“Penghormatan terhadap masa lalu kita.”
“Masa lalu?”
“Ya.”
“Jadi, setelah di masa lalu kau menjadikanku seperti sampah yang berjalan, sekarang kau memintaku untuk datang ke hari bahagiamu?”
Hanya undangan. Dan undangan itu tergeletak di atas meja, ada kuncup November di atas meja, mengabarkan sepasang November yang ceria, penuh denting gelas yang ditabrakkan pelan-pelan, penuh dengan musik klasik yang dimainkan beberapa orang berpakaian hitam seragam, dengan dasi kerlip kunang-kunang. Sebuah ruangan, gemerlap lampu menerangi wajah-wajah yang menyematkan November di dada-dada mereka, di kemeja yang berbaris rapi menyiapkan tangis bahagia.
Tetapi siapa yang masih berjalan mengirimkan November yang dibuatnya sendiri? Malam kian panjang, pemuda ini memasuki sebuah kafe pinggir kota, duduk di dekat lampu kaca, dengan beberapa wanita bergelayut manja. Segalanya lantas seperti diorama, kehidupan yang terbingkai dalam sebuah album yang mengekalkan setiap bencana di sela napasnya. Di kafe ini, sebuah bencana bisa merasuk lewat gelas-gelas yang bisu, gelas-gelas yang memantulkan panggilan sebuah pesta.
Pesta.
Hanya undangan.
Apakah aku harus menikahimu, November? Botol-botol bir bersanding di tepi meja, seperti tepi mata yang hendak meringkus setiap ucapan belasungkawa. Tetapi mata telah buram, seiring detak jam yang seolah mundur, November pun membuatnya berkaca, membuat botol-botol bir itu seperti tanda baca di atas meja, tanda baca atas sebuah kertas yang selalu diawali oleh tanggal, bulan, tahun, diikuti sepasang nama yang membentuk rima. Hanya undangan. Oh. Tak bisakah semuanya bergeser? Pemuda ini, mulutnya penuh busa oleh bir yang bersetubuh dengan bibirnya, pemuda ini tak punya sayap yang bisa menampilkan sebuah pertunjukan dalam sebuah kafe remang-remang. Ia pelayat dari kematian yang tertunda.
“Lihat. Sepasang nama.”
“Ya. Sepasang nama yang bukan kita.”
Hanya undangan.
Suara musik yang lagi, lagu yang berbeda lagi. Tangisanmu adalah waktu luangku. Suara yang terpetakan pada setiap telinga di kafe ini. Air matamu adalah wisataku. Telinga meneteskan November paling kelabu di sakunya, dan undangan itu mengalami bercak yang paling menyedihkan. Ia menggenggamnya, kertas itu menjelma sebatang jarum, lalu jarum-jarum, menjadi setumpuk dendam yang harum.
Hari demi hari pun melangkah perlahan di November yang patah. Seperti rel kereta yang bantalannya kacau. November melepaskan jasadnya pelan-pelan, diiringi keriap pagi hari yang berembun dan penuh kecemasan. Kelak, setelah pertengahan bulan, pada tanggal yang tercatat dalam undangan, akan ada sepasang November yang tengah mendesah dan memupuk keringat dalam botol-botol kaca, meninggalkan November lain yang membisu, yang hanya bisa menjadi sepotong puisi di daftar hadir para tamu…
***
November,
Hanya undangan;
-Kesunyian.