Suatu Malam, Kami Berpelukan

(Tabloid Nova, 21 – 27 Februari 2011)

Sudah pukul sembilan malam, tetapi Santi, adik perempuanku, belum juga pulang dari surau. Ibu bertambah resah, apalagi listrik sedang padam, dan hujan turun diam-diam, membuat segala suasana malam ini semakin menggelisahkan. Ibu duduk saja di sebuah kursi kayu. Sementara aku masih sibuk menyalakan lilin untuk penerangan, meletakkannya di beberapa sudut. Sesaat kulihat ayah yang tidur di atas tikar, pasti lelah sehabis bekerja seharian di penambangan pasir, ayah sudah tertidur sejak selepas maghrib tadi. Rumah ini pun tiba-tiba penuh dengan bayang-bayang, ujung api lilin yang bergerak-gerak, seperti mengabarkan betapa ibu sedang terjebak oleh derasnya kecemasan.

“Coba jemput adikmu, isya’ sudah lewat, kenapa belum pulang juga?” Kata Ibu.

Aku bangkit, baru saja selesai meletakan lilin di sudut terakhir; di bagian dapur yang penuh dengan cericit tikus. Meski cukup luas, tetapi rumah berdinding triplek dan berlantai tanah ini memang hanya memilik satu ruangan, tak ada sekat apapun, dan dapur terletak di sudut belakang paling kanan.

Tanpa banyak bicara lagi, aku segera meraih jaket yang menggantung di paku yang tertanam pada kayu penyangga yang mulai banyak berlubang.

“Aku pergi dulu, Ibu.”

Setelah berpamitan, aku meninggalkan pintu depan, hujan terus turun diam-diam, aku selalu merasa aneh dengan malam legam yang ditemani hujan. Kuambil sandal jepit yang disembunyikan di bawah pot bunga, lantas melangkah meninggalkan rumah. Sesekali suara katak di pematang samping rumahku terdengar bersahut-sahutan. Aku melihat sejenak, jalan sudah sepi, pohon-pohon meneteskan kemilau butir-butir air, di langit tak ada pelangi, tak ada bintang, hanya gelap, dan jika harus ada suara, hanya suara jangkrik yang menjadi penghuni kesunyian.

Surau tempat adikku mengaji tak begitu jauh sebenarnya, namun yang menjadi kecemasan ibu, jalan menuju surau amat sepi, jarang rumah penduduk, ditambah lagi harus lewat di tengah-tengah kompleks pemakaman. Bahkan kabarnya, di pemakaman yang sekilas nyaris tak terawat itu sering ada hantu yang mengganggu setiap yang lewat, terutama hantu buah kelapa. Pemakaman itu memang lebih identik dengan pohon kelapa ketimbang pohon kamboja. Ada banyak pohon kelapa berbaris-baris tak beraturan, seperti tumbuh liar. Dan menurut cerita yang amat terkenal di desaku, di pemakaman itu sering ada yang mendengar suara kelapa jatuh di semak-semak, tetapi ketika didekati dan dilihat ternyata adalah kepala manusia yang sedang tertawa.

Begitulah, suasana mencekam pun mulai kurasakan ketika melihat gerbang makam yang selalu terbuka itu, aku kadang merasa heran, bagaimana setiap hari adikku melewati jalan ini bersama kawan-kawan sebayanya.

Aku terus melangkah, pijakanku di atas air menimbulkan suara gemericik tersendiri. Sekarang aku mendekati gerbang itu, besinya berkarat dan sepertinya tak bisa lagi digerakkan. Tetapi aku tak punya pilihan lain, sebab pikiranku sudah penuh dengan adik perempuanku, di mana dia? Padahal biasanya pukul delapan adikku sudah tiba di rumah, bersama kawan-kawannya, suara langkah kakinya pasti terdengar gemerisik menginjak kerikil halaman.

Air menggenang di mana-mana, kutatap jalan lurus berlumpur ini. Tampak sebuah lampu menyala di ujung depan, surau itu tinggal beberapa puluh meter lagi. Aku tak berani menghadap ke belakang, sesekali ada angin yang mengembus di sela leherku.

Beberapa puluh detik kemudian, tampak sosok gadis kecil yang duduk dekat tiang surau. Aku pun mempercepat langkah, namun masih cukup berhati-hati agar tidak terpeleset. Dan ketika kumasuki halaman surau, tampaklah bahwa gadis kecil yang menyendiri itu adalah adikku. Ia mendongakkan wajahnya dan seperti terkejut melihat kehadiranku.

“Kakak?” Tanyanya sambil mengusap wajah.

“Kamu kenapa tidak pulang? Ibu sudah menunggu.”

“Pensilku hilang..”

Tiba-tiba saja ia menangis, sesegukan. Sepertinya ia sudah menangis sejak tadi. Wajahnya ditundukkan.

“Kenapa bisa hilang?” Tanyaku.

“Tadi dibuat mainan Ardi, terus dibuang ke tempat sampah itu.” Adikku berkata sambil menunjuk sesuatu.

“Sudah dicari?”

“Sudah, Kakak. Santi sudah cari sejak tadi, sampai teman-teman pulang. Tapi tidak ketemu.”

Kali ini adikku memasukkan tangannya ke tempat sampah itu, mengais-ngais sebentar, lalu mengangkatnya kembali. Kulihat kedua tangannya benar-benar kotor, kukunya penuh dengan tanah.

“Ayo pulang saja.” Kataku.

Adikku menurut. Wajahnya tampak semakin basah saja, entah karena air mata, atau air hujan yang turun diam-diam.

***

Di bawah malam yang legam dan lembab, kami berjalan melintasi setiap bayang-bayang pohon, suara-suara yang semakin beragam. Aku menggandeng tangan adikku. Aku berusaha untuk tak membayangkan apa-apa di perjalanan pulang ini, semacam desis ular yang merayap di sela tetumbuhan liar, atau suara kodok yang seolah menajamkan pendengaran. Dan ketika melewati kompleks pemakaman tadi, kulihat adikku lebih banyak menutup wajah dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan semakin erat menggengggam tanganku.

“Tidak usah takut.” Kataku. Tetapi muncul juga rasa gemetar di dadaku sendiri. Kegelapan memang amat akrab dengan keghaiban. Aku berusaha untuk tetap tenang. Dan sepuluh menit kemudian, rumah kami sudah tampak di kejauhan.

Setibanya di halaman rumah, tampak sosok manusia duduk di teras.

“Itu Ibu,” ucap adikku.

Ibu duduk di samping sebuah lilin yang cahayanya bergoyang-goyang. Rupanya ia sudah berpindah ke bagian luar rumah, dengan sarung kumal yang senantiasa dikenakannya, aku melihat sekilas wajah ibu diterangi cahaya lilin yang membuat bayangannya menjadi hitam raksasa.

Kami berdua mengucap salam. Kami benar-benar melihat kecemasan yang akut di guratan wajah ibu.

“Kamu kemana saja?” Tanya ibu ketika kami berdua sudah tiba di teras, melepas sandal, lalu meletakkannya di bawah rongga pot bunga.

“Pensil Santi hilang.” Jawab adikku.

“Hilang?”

“Iya, Ibu. Sudah dicari, tapi tidak ketemu.”

Adikku tampak ingin menangis lagi, tetapi air matanya seperti sudah habis. Hanya suaranya yang menjadi terbata-bata. Kemudian ibu segera membelai rambut adikku, seperti ingin menenangkannya.

“Ya sudah. Kapan-kapan kita beli lagi, ya. Yang penting kamu sudah pulang.”

“Tapi besok bagaimana di sekolah?”

Ah, adikku rupanya masih berpikir. Padahal ibu sudah berusaha menenangkannya, juga menenangkan dirinya sendiri yang mungkin saja sejak tadi terus berlumur doa. Aku masih ada di dekat mereka. Kulepaskan jaket yang sedikit basah, kukibaskan beberapa kali.

“Besok mau minta sama ayah.”

“Jangan!” tiba-tiba ibu bicara dengan nada membentak, namun tetap dengan menahan suaranya. Adikku terkejut. Ibu memandanginya. Aku juga berbalik ke arah mereka berdua. “Kalau kamu minta ayahmu, kamu malah akan dipukuli lagi. Sudah untung ayahmu tidur. Kalau tahu jam sembilan begini kamu belum pulang, pasti dimarahi.”

Adikku mengangguk kecil. Aku terkesiap oleh suasana yang begitu dingin. Aku tahu, tak ada yang bisa digambarkan dari sosok ayah selain sesuatu yang lebih sering hilang dan seperti mengingatkanku akan perasaan aneh yang samar-samar.

“Kalau begitu, besok Santi nabung lagi, ya. Mau beli pensil baru.” Adikku berkata lirih, tetapi terdengar amat jelas. Ya. Aku tahu niatan adik perempuanku ini, tetapi bukankah uang saku saja belum tentu didapatkannya rutin setiap pagi? Bukankah biasanya Santi hanya mendapatkan uang saku kalau ibu dapat upah lebih dari bekerja menjadi buruh cuci? Ah. Bukankah yang terjadi malam ini tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang entah sampai kapan masih akan terus berulang kembali?

Malam pun terasa semakin kelam, hujan masih turun diam-diam. Di teras rumah ini, kami bertiga berpelukan.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s