(Suara Pembaruan, 30 Januari 2011)
“Padamkan lampunya…”
Cahaya pun menghilang seluruhnya. Ruangan itu menjadi gelap seketika, menebarkan senyap yang sempurna.
Sang Jenderal duduk dan hanya tampak asap rokok mengepul dari ujung titik api. Pelan. Dinding yang dingin, lembab, dan berlumut. Sesaat sunyi. Sangat sunyi. Beberapa pengawal masih berdiri. Berbaris dalam diam. Tak bisa saling melihat. Juga tak ada yang bersuara, kecuali suara jam dinding yang memang hanya suara, sebab tak terlihat lagi wujudnya. Jam dinding itu menunjukkan waktu yang kini menjadi sesuatu yang tak lagi penting. Apakah waktu bisa bersuara? Haruskah waktu didengarkan? Apakah waktu bisa dilihat?
Kemudian sayup-sayup terdengar langkah sepatu dari luar ruangan, seperti terburu-buru. Dan tak hanya sepasang sepatu, melainkan banyak, seperti kejar-mengejar. Sang Jenderal masih tenang, masih dalam posisinya yang nyaris diam sempurna, kecuali tangan kanan yang memegang rokok, api menyala kecil, seperti kunang-kunang yang membara.
Langkah-langkah itu semakin dekat, kali ini diikuti rintihan, miris, rintihan itu diselingi jeritan. Ketika sudah sangat dekat, suara-suara itu menggema di lorong. Jelas sekali. Suara wanita. Menjerit. Meminta tolong.
Sang Jenderal masih diam. ketika sebuah tamparan terdengar. Dalam gelap, memang hanya pendengaran yang bekerja, yang menerka-nerka setiap kejadian. Sekarang langkah-langkah itu berhenti, sunyi lagi, seperti jeda yang sangat kilat. Kecuali isak tangis yang lamat-lamat.
Pintu ruangan diketuk.
“Buka.” Kata sang Jenderal. Masih dalam kegelapan.
Maka salah seorang pengawal yang tak terlihat wujudnya segera melangkah. masih benar-benar gelap. Pekat. Tetapi pengawal itu seperti hapal benar berapa langkah yang dibutuhkan untuk menuju pintu, dan tahu di posisi pintu tersebut.
Wanita itu dilemparkan begitu saja. Dalam kegelapan, ia terjatuh di lantai yang keras, rupanya sang pengawal mengempaskannya begitu keras. Terdengar rintihan lagi. Tangisan yang tertahan, tangis yang tak melambangkan kelembutan.
“Sekarang cepat beritahu, di mana suamimu, dan kenapa dia membocorkan semuanya?” Tanya sang jenderal, yang bagi wanita itu hanyalah suara. Dalam rasa sakit yang menusuk, tubuh yang ngilu, wanita itu mengangkat wajahnya, berusaha mencari-cari asal suara itu. Berusaha mengenali siapakah orang yang mengajaknya bicara.Tetapi gagal. Ia tak melihat apa-apa. Terlalu gelap. Bahkan mendadak sebuah cengkeraman ia rasakan begitu keras dari arah belakang. Rambutnya dijambak. Ia menjerit lagi.
“Jawab!”
Meski ia dijambak dari belakang, tetapi suara itu berasal dari depan. berat. Ia merasa ada banyak orang di tempat tanpa cahaya ini, ia juga tahu ini adalah ruangan penuh asap rokok. Wanita itu berkeringat, tetapi tak satupun bisa melihatnya. Segalanya seperti tak ada, padahal tentu ada. Rambutnya semakin erat ditarik. Sosok macam apakah yang berkumpul di sini? batin wanita itu. tetapi ia pun tak tahu di manakah dirinya berada sekarang. ia hanya ingat dijemput paksa dengan mobil, ditutup matanya dengan kain, kemudian segalanya masih gelap sampai sekarang.
“Aku tidak tahu, sungguh!”
Akhirnya wanita itu bersuara, jawabannya terdengar tegas bersama keluh sakitnya. napasnya terbata-bata, seperti begitu lelah.
Sang Jenderal bangkit, tentu tak ada yang tahu, berapa jarak antara sang jenderal dengan si wanita. Namun jelas sekali langkah yang perlahan itu menyatu dan menghabisi jarak. Sekilas wanita itu melihat api rokok yang tiba-tiba ada di atas kepalanya.
“Jawab saja. Karena aku tak mau berbasa-basi.” Kata sang Jenderal.
Wanita itu kini merasakan dengus napas penuh luapan emosi di depan wajahnya.
“Sungguh, aku tidak tahu apa-apa.”
Jenderal itu bangkit, sejenak menjauh beberapa langkah. Suasana hening.
Tetapi semua orang di ruangan gelap itu tiba-tiba tertegun, ketika mendadak terdengar sebuah letusan senjata yang menggema berkali-kali, diakhiri suara tubuh yang jatuh.
Lampu menyala.
***
“Jadi, kamu tinggalkan istri dan anak-anakmu demi melarikan diri sendirian?”
“Benar.”
“Wah, bagaimana kalu terjadi apa-apa pada mereka?”
“Entahlah, aku juga pusing, akan kuselesaikan satu demi satu.”
“Dan harus cepat.”
“Ya, aku tahu, Jenderal itu memburuku. Dengan pangkatnya yang tinggi, pasti punya banyak anak buah yang diperintah untuk menyebar di banyak tempat.”
“Lalu kamu akan bersembunyi di mana?”
“Entahlah. Pikiranku buntu. Aku belum tahu, mungkin mencari apartemen yang kumuh, yang tak terpikirkan oleh mereka.”
“Itu masih riskan, dia Jenderal besar, negara ini pun pasti bisa dikuasainya. Kenapa tidak pindah negara saja?”
“Maksudmu? Aku harus mencari negara yang kumuh?”
“Ha ha, tidak harus kumuh, yang penting negara terpencil yang nyaris tidak dikenal.”
“Jadi aku harus tinggal di negara itu?”
“Nah! Kau hanya butuh paspor.”
“Bagaimana caranya?”
“Nanti kukenalkan dengan temanku, ia pasti bisa membantumu.”
“Benarkah?”
“Tentu saja.”
***
Sebuah mobil dengan bak terbuka mengangkut beberapa orang dengan wajah kaku, seperti batu. Mobil itu berhenti di tepi jalan di daerah perbukitan, udara panas, angin bergemuruh. ada lembah menganga di bagian kiri jalan. beberapa orang melompat turun, menggotong sebuah karung yang tergeletak dan terikat erat. Sebagian dari mereka berdiri di sisi mobil dengan penjagaan yang ketat. Padahal jalanan sepi, nyaris tak satu pun kendaraan lewat. Tetapi mata mereka semua tampak awas, mengamati setiap sudut tanpa bersuara. Sebagian lagi menggotong karung itu sampai ke tepi jurang. Dan dengan beberapa kali ayunan, karung itu pun dilemparkan.
Masih tanpa bicara, orang-orang kembali melompat ke atass mobil. Dan mobil pun segera berlalu, suasana lengang kembali.
***
“Halo, halo Mbok?”
“Ya, Tuan?”
“Istriku mana? Tolong panggilkan.”
“Oh, Nyonya… Nyonya belum pulang sejak tiga hari yang lalu.”
“Apa? Belum pulang?”
“Benar Tuan.”
“Kemana dia?”
“Maaf, saya tidak tahu, Tuan. Sebab Nyonya tidak pamit atau pun meninggalkan pesan.”
“Ah, harusnya kamu tanya. Ya sudah, panggil Dito saja, atau Sinta.”
“Anak-anak juga belum pulang sekolah.”
“Belum pulang?”
“Benar, Tuan.”
“Sudah malam begini belum pulang dari sekolah?”
“Maaf Tuan, memang begitu.”
“Apa Prino tidak menjemput?”
“Sepertinya tadi sudah, Tuan. Tapi mungkin nanti saya tanya lagi.”
“Ah, lalu kerjamu apa saja di rumah? Ya sudah, sekarang kuperintahkan kamu dan Prino pergi ke sekolah, cari anak-anak sampai ketemu.”
“Baik, Tuan.”
***
Seorang pengawal melangkah tegap dengan sepatu larsnya menyusuri lorong bercat kelabu. Ia menuju sebuah pintu yang lantas diketuknya. Sesaat kemudian pnitu dibuka dari dalam. ia melangkah masuk. Cahaya lampu bertebaran dari berbagai sudut. Ruangan benderang. Di hadapannya ada sang Jenderal yang duduk lengkap dengan atribut kebesarannya. Pengawal itu memberi hormat, sang jenderal hanya mengangguk.
“Anaknya sudah kami bawa, dua-duanya.” ucap si pengawal.
“Bawa mereka kemari.”
“Siap, Jenderal.”
Pengawal itu bergegas meninggalkan ruangan setelah memberi hormat, pintu ditutup kembali. Jenderal itu masih duduk di kursinya, menyalakan rokok. Meja kerja yang penuh dengan kertas-kertas dan dokumen, juga asbak yang tak lagi mampu menampung abu rokok. beberapa pengawal berbaris di tepi ruangan, juga di dekat pintu, semuanya bersenjata lengkap. Seakan siap untuk berperang.
Dan ketika terdengar langkah-langkah yang diseret, sang Jenderal segera memerintah:
“Padamkan lampunya…”***