Oxymora

(Tribun Jabar, 26 Februari 2012)

Petang mendadak gaduh di Hutan Notog, ketika bayi Oxymora menangis di sela kerat bambu, semua pohon bergoyang, terdengar juga cakrawala jatuh, sementara matahari pingsan dan hanyut di Sungai Serayu.

More

Diorama Angin

(Tabloid Nova, 20 – 26 Februari 2012)

Akulah angin yang bergerak dari masa ke masa, dari bukit ke lembah, dari kota ke desa, yang diciptakan dan hilang begitu saja, yang terus menerbangkan burung-burung, mengayunkan pepohonan, rerumputan, mengirimkan badai jika hujan datang, dan membuat cemas orang-orang di perjalanan. Akulah angin yang menjadikan segalanya bergerak di dunia ini. Kukirimkan air hujan menerpa atap rumah dan jalan raya, kukirimkan debu di siang hari yang panas, debu yang menempel di kaca-kaca jendela rumah…

More

Sihir Mimpi

(Tribun Jabar, 4 Desember 2011)

Mata lelaki itu mulai memerah, ibu tersengal, memegang gagang pintu, bersiap untuk lari. Tetapi lelaki itu bergerak lebih cepat, dia melompat dan menjambak rambut ibu. Teriakan lantas menggema, erangan, jeritan, bercampur baur dengan desis udara malam di ruangan remang itu. Malam sepertinya telah begitu larut, teriakan ibu mengendap pada dinding lembab dan lantai yang retak. Ibu meronta, namun cengkeraman itu justru kian erat. Sesaat kemudian, lelaki itu tertawa, wajah menyala menampakkan senyuman legam. Sebuah pisau diayunkan, kilatnya di udara seperti petir dalam riuh hujan…

More

Danau, Perahu, dan Dua Anak Kecil

(Koran Tempo, 4 Desember 2011)

2011
Danau Renville.
Sebuah perahu.
Angin musim–
gugur.

“AYO cepat naik!” ucap anak laki-laki itu kepada gadis kecil di dekatnya. Ia mengulurkan tangannya.

“Apa tidak berbahaya?”

“Sudah, tidak apa-apa. Kan ada aku.”

More

Fortifikasi Keheningan

(Lampung Post, 18 September 2011)

AKU memasuki sebuah lorong panjang. Sebuah lorong yang menjadi semacam pembatas antara masa lalu dan masa depan.

More

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.